Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Juli 2014

Pasar Indonesia Menanggapi Positif Salam Dua Jari

IHSG
Seperti yang kita ketahui, nilai tukar rupiah belakangan ini melemah. Namun berkat adanya Jokowi-effect, nilai tukar rupiah menguat! Hal tersebut sudah kita saksikan sendiri ketika Jokowi memutuskan calon wakil presiden yang akan diusungnya adalah Jusuf Kalla. Pasar menyambut positif.

Nah yang baru lagi, nilai tukar rupiah menguat ke level tertinggi sejak Desember 2013 karena spekulasi bahwa Jokowi akan memenangkan pemlihan presiden (pilpres) kali ini! Merujuk pada data Bloomberg per 7 Juli 2014, rupiah naik 1,6 persen ke level Rp 11.688 per dolar AS sejak pukul 11.30 WIB. Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak 2 Desember 2013. Di pasar global, rupiah naik 1,1 persen ke level Rp 11.730 per dolar AS, atau 0,4 persen lebih lemah dibanding pasar lokal.

Terlihat bahwa para investor lebih menyukai Jokowi dibandingkan dengan Prabowo. Mungkin hal ini ada sangkut pautnya dengan sentimen anti asing yang sering dilontarkan oleh Prabowo di kampanye-kampanyenya. Beberapa waktu yang lalu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menyatakan dukungan mereka untuk Jokowi. Apindo menilai bahwa Jokowi akan lebih pro pengusaha dan mengerti perspektif pengusaha karena Jokowi dan Jusuf Kalla memiliki latar belakang sebagai pebisnis.

Apa yang akan terjadi kiranya Prabowo yang memenangkan pilpres kali ini? Apakah rupiah akan langsung melemah drastis? Sulit diduga memang, namun sepertinya hal tersebut tidak akan disambut baik oleh dunia internasional. Berbagai media internasional sedang menyoroti pilpres Indonesia kali ini karena selain kenyataan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, faktor lainnya adalah karena salah satu calon presiden Indonesia, Prabowo Subianto, adalah pelanggar hak asasi manusia (HAM). Tentu mata internasional hendak menyaksikan apakah negara muslim terbesar di dunia ini akan dimenangkan oleh seorang pelanggar HAM! Apabila ini terjadi, tentunya hal ini bukanlah sesuatu yang positif.

Sentimen anti asing dan ultra-nasionalis yang digadang-gadang Prabowo juga membuat pasar dan para investor takut. Jangan-jangan benar nanti Prabowo akan menasionalisasi berbagai aset asing. Padahal kalau dipikir-pikir, keberadaan asing di negeri kita ini tidak merugikan, malahan menambah investasi sehingga ekonomi kita berkembang. Tidak sedikit orang asing tersebut yang sudah menikah dengan orang Indonesia dan bersama anak mereka tinggal di Indonesia. Mereka juga pastilah menginginkan kemajuan Indonesia demi anak-anak mereka.

Semoga saja isu rusuh yang berhembus sekarang-sekarang ini tidak terjadi sehingga tidak mengganggu pasar dan nilai tukar rupiah. Yang pasti-pasti damai saja. Salam dua jari!

Rabu, 02 April 2014

Nasionalisme, Liga Champion dan Kampanye Pemilu Indonesia



Salah seorang artis yang maju menjadi Caleg
Para politisi dan partai-partai yang berlaga dalam Pemilu nanti, baik pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 9 April maupun Pemilihan Presiden (Pilpres) 9 Juli nanti, melakukan berbagai manuver agar dirinya melenggang ke Senayan atau partainya menjadi partai penguasa (ruling party) di Republik dengan penduduk 240 juta jiwa ini. 

Berbagai strategi dilakukan seperti menjual program atau isu-isu tertentu seperti nasionalisme, tapi ada juga yang menebar pesona saja seperti yang dilakukan oleh beberapa artis. Tapi ada ada juga yang melancarkan serangan terhadap lawan politik melalui black-campaign

Cara-cara yang disebut terakhir itu tentu patut disayangkan karena cara-cara itu menunjukkan bahwa kita (sebagian elit) bangsa Indonesia masih belum dewasa dalam berdemokrasi, berotak jongkok, menghalalkan segala cara. Sebuah gejala yang tidak sehat bagi perkembangan demokrasi. Berlaga dalam Pemilu sebetulnya bisa diibaratkan dengan sebuah pertandingan sepakbola. Bagi para penggemar sepakbola yang menonton petandingan Liga Champion malam atau subuh tadi antara Manchester Unied vs Bayern Munich atau Barcelona melawan Atletico Madrid tentu menikmati keindahan bagaimana para pemain memainkan bola, menguasai bola dengan menerapkan strategi yang diarahkan oleh sang Manajer. 

Bahkan sebelum pertandingan pun, para Manajer Club tidak segan-segan memuji lawan, sebuah sikap sportif yang mahal di Indonesia saat ini. Pelatih Bayern tidak segan-segan memuji lawannya karena dia tahu menang atau kalah akan ditentukan di atas lapangan, bukan perang urat-syaraf, atau serang-menyerang di luar lapangan. Demikian juga pada pemilihan umum, menang atau kalah akan ditentukan pada 9 April dan 9 Juli nanti, tentu dengan catatan ‘wasit’ dalam hal ini KPU melakukan tugasnya sebagai wasit yang adil, fair, tidak seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya yang terindikasi terjadi kecurangan.

Caleg Artis, Jual Tampang atau Program?
Kita sebagai warga negara mendambakan para calon legislatif dan partai-partai yang bertarung dengan lebih sportif ‘menjual’ program, menjual isu-isu yang menjadi concerned atau perhatian utama masyarakat. Ada beberapa partai yang melakukan atau menjual program-program atau fokus partainya bila nanti menjadi pemenang dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) maupun Pemilihan Presiden (Pilpres). 

Patut disayangkan kalaupun ada program atau isu-isu tertentu yang diangkat, hanya sebatas wacana dan di atas kertas saja, tidak mengesplorasi atau menawarkan solusi. Misalnya saja, isu ekonomi kerakyatan. Isu ekonomi kerakyatan dijual tapi tidak ada ada solusi, ekonomi kerakyatan seperti apa yang ditawarkan. Banyak ide besar dijual ke masyarakat, tapi hanya di atas permukaan saja. 

Isu lain yang dijual atau diangkat oleh partai-partai tertentu adalah nasionalisme. Partai Gerindra misalnya mencoba mengaduk-aduk emosi nasionalisme dan rasa kebangsaan masyarakat melalui iklan-iklan di televisi, media cetak ataupun media sosial. Tapi pada saat yang sama, partai tersebut gencar menyerang lawan, dalam hal ini, Joko “Jokowi” Widodo, yang dianggap sebagai pesaing paling utama yang dapat menggagalkan ambisi Ketua Partai Gerindra Prabowo. 

Prabowo misalnya dengan lantang meneriakkan “Indonesia Tidak Bisa Dibeli” saat melakukan orasi di depan ribuan peserta kampanye baru-baru ini di Senayan. Semangat pejuang-pejuang Kemerdekaan kembali digugah agar Indonesia dapat menjadi macan Asia. Tapi disatu sisi gerilya menyerang lawan juga dilakukan sehingga justru menjadi bumerang bagai partai Gerindra. Banyak warga yang tadinya bersimpati, bahkan kini menjadi antipanti karena masyarakat Indonesia, suka atau tidak suka, cenderung memihak dan bersimpati pada pihak yang dikorbankan. Lihat saja bagaimana Presiden SBY pada tahun 2004, dengan jitu memanfaatkan situasi dia menjadi korban kepentingan politik penguasa saat itu. Seharusnya, Gerindra tidak ikut-ikutan dengan partai-partai lain yang miskin konsep untuk menyerang lawan.

Isu nasionalisme ini memang sah-sah saja karena dengan cara itu, masyarakat Indonesia didorong untuk lebih mencintai bangsanya sendiri dan segala isinya. Tapi semangat nasionalisme ini terkadang disalahartikan atau disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk melakukan gerakan nasionalisasi terhadap pengelolaan sumber daya alam seperti yang dilakukan oleh Chaves atau Soekarno pada era 1950-1960-an. Resource nationalism ini juga dapat mengirim pesan yang salah (wrong message) ke palaku usaha atau investor yang ingin mengembangkan usaha atau berinvestasi di Indonesia. Padahal investasi, baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri, merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi. 

Seperti yang kita tahu, ekonomi Indonesia saat ini sedang berkembang. Sejauh ini perkembangan ekonomi terhambat oleh ketiadaan infrastruktur yang memadai sehingga Indonesia membutuhkan investasi. Tahun 2013, misalnya, investasi yang masuk tercatat sebesar US$22 miliar, hampir sama dengan tahun sebelumnya. Investasi tersebut diluar investasi di minyak dan gas bumi. Investasi tersebut masuk ke berbagai sektor dan mendorong terciptanya lapangan kerja dan meningkatnya akitivitas ekonomi. 

Pelaku usaha dan investor saat ini hanya menunggu dan memantau kebijakan ekonomi partai-partai yang diperkirakan bakal memenangkan pemilihan legislatif maupun pemilihan Presiden. Ini penting karena kebijakan ekonomi partai pemenang akan mempengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia dan pada akhirnya berpengaruh pada pelaku usaha. Terlepas dari siapa yang akan menang dalam Pileg maupun Pilpres sertai apa yang menjadi fokus program ekonomi, politik dan sosial pemerintah yang baru nanti, rakyat hanya membutuhkan para Caleg dan partai-partai yang berlaga saat ini dapat berprilaku lebih dewasa dalam berdemokrasi, lebih mengedepankan sopan-santun, tidak malah menyerang lawan-lawan politik dengan cara-cara primitif.  (*)

Kamis, 20 Maret 2014

10 Agenda Utama Jokowi Jika Terpilih Menjadi Presiden Indonesia

Joko Widodo
Seorang sahabat mengirimkan email, menanyakan penulis kira-kira apa 10 agenda utama Joko Widodo (Jokowi) jika terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia ke-7 pada Pemilihan Presiden (Pilpres) nanti? Jawaban saya, pertanyaan sebaiknya dimodifikasi apa agenda utama Presiden mendatang?Siapa pun itu.

Saya memang bukan pendukung militan (die-hard) Jokowi, bukan pula pendukung calon presiden lainnya. Kriteria saya jelas. Saya hanya akan mendukung dan memilih calon presiden yang akan mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik, lebih sejahtera. Seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya, seorang pemimpin yang memahami dan mengerti kebutuhan rakyatnya. Saya akan memilih pemimpin yang mampu meyakinkan saya bahwa dia adalah putra terbaik bangsa. Dia tidak harus ganteng, pintar atau berwibawa. Tidak harus belajar di akademi John Robert Powel untuk belajar bagaimana bisa tampil prima di depan kamera. Yang saya butuhkan adalah pemimpin yang jujur, apa adanya (menjadi dirinya sendiri), tidak korupsi, dan tentunya bermoral.

Kriteria pemimpin yang saya idamkan, dan mungkin menjadi idaman mayoritas bangsa ini, akan jatuh pada Jokowi. Sebagian masyarakat mungkin menjagokan calonnya sendiri-sendiri. Bila melihat berbagai survei independen, Jokowi hingga saat ini masih menjadi calon yang memiliki popularitas paling tinggi.

Infrastruktur Gas
Kembali ke pertanyaan pokok tadi, apa 10 agenda utama Jokowi bila kelak benar-benar menjadi Presiden, sehingga kita bisa mulai berdiskus mulai dari sekarang. Berikut adalah 10 agenda utama Jokowi nanti.

1). Reformasi di tubuh Peradilan, Kepolisian, Kejaksaan, Mahkamah Konstitusi dan memperkuat KPK. Tanpa ada penegakan hukum (rule of law), maka tidak akan ada reformasi.

2). Reformasi DPR. Rakyat sudah tahu dan muak dengan kelakuan sebagian anggota DPR, seperti praktek-praktek jual beli pasal, jual beli anggaran, jual-beli keputusan. Semua itu harus dihentikan. Caranya? Segera lakukan reformasi DPR dengan sasaran utama meningkatkan transparansi dan pengawasan, termasuk menerapkan panduan KPK. Reformasi yang sama juga perlu diterapkan di daerah (DPRD).

3). Mendorong investasi asing langsung (FDI) dengan memperluat rule of law dan memotong berbagai hambatan birokrasi. Semua peraturan daerah yang bertentangan dengan Konstitusi segera dicabut.
  
4) Bersihkan industri minyak dan gas bumi dari praktek-praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) dan terapkan good corporate governance (GCG) dengan ketat, termasuk di tubuh Pertamina dan BUMN lainnya. Perusahaan pelat merah itu, perlu didorong untuk meningkatkan eksplorasi mencari cadangan minyak dan gas bumi. 

Ciptakan level playing field di industri migas. Perusahaan-perusahaan migas yang punya komitmen investasi tinggi dan berkompeten diberikan kesempatan untuk mengembangkan blok-blok migas agar berkontribusi maksimal bagi Negara. Ini termasuk pengelolaan Blok Mahakam pasca 2017.  Buatlah keputusan (opsi) terbaik. Kolaborasi operator lama dan masuknya pemain baru (Pertamina) patut dipertimbangkan agar produksi Blok Mahakam optimal.

5). Hentikan segera perusakan hutan tropis untuk kepentingan ekspansi perkebunan kelapa sawit, karet atau pengembangan hutan tanaman industri (HTI). Indonesia harus melindungi hutan, laut dan lingkungan demi kebaikan masa depan anak cucu bangsa ini. Menjaga hutan juga bagus untuk industri pariwisata, yang kini lebih mengutamakan konsep back to nature. Terkait ini, perlu untuk merileksasi pengenaan visa bagi wisatawan (hilangkan visa 30 hari).  Indonesia harus menghentikan upaya-upaya perusakan alam, seperti membuang sampah ke sungai dan laut.

6). Terapkan sistem pendidikan yang tepat bagi anak-anak demi kemajuan bangsa. Ajarlah anak-anak mengenai pentingnya matematika dan ilmu pengetahuan. Pendidikan Pancasila dan agama harus diarahkan untuk pembentukan karakter dan nilai-nilai moral, bukan menghafal sila-sila. Bila anak-anak dan putra-putri kita tidak dididik dengan baik, maka mereka akan pergi ke negara lain mencari sistem pendidikan yang lebih baik.

7) Kembangkan sektor industri, pembangkit listrik dan infrastruktur, termasuk jaringan pipa gas, untuk mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi. Pengembangan sektor-sektor ini akan menciptakan lapangan kerja yang banyak.

8)  Lindungi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Pemerintah jangan hanya menginginkan devisa TKI, tapi yang terpenting adalah perlindungan terhadap hak-hak mereka. TKI yang bekerja di luar negeri adalah bagian dari keluarga besar Indonesia. Kita tak ingin TKI kita diperlakukan seperti budak di negara-negara lain, seperti di Timur Tengah, Malaysia, Hong-Kong atau negara-negara lain.  Buatlah aturan main atau mekanisme kerja yang jelas agar tenaga kerja yang bekerja di luar negeri mendapat kepastian atas hak dan status masa kerja mereka (seasonal laborers).

9) Keamanan Energi, Pendidikan, Riset dan Teknologi perlu diterapkan untuk memastikan Indonesia memanfaatkan sumber daya yang ada secara efisien sehingga keamanan energi terjamin.

10) Perdagangan -- Dorong pelaku bisnis untuk meningkatkan investasi di daerah dan tidak hanya fokus di Jawa. Pertumbuhan yang berkesinambungan dan merata akan membuat Indonesia lebih kuat dalam menghadapi perdagangan bebas di tingkat regional maupun global.

Demikian beberapa catatan 10 Agenda Utama yang perlu mendapat perhatian Presiden Terpilih mendatang. (*)



Selasa, 11 Maret 2014

Indonesia Jelang Pemilu, Pantau Ketat Para Menteri Yang Ambil Cuti Untuk Kampanye!



Dalam beberapa bulan terakhir, beberapa menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II (KIB II) terlihat aktif melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah. Melihat gelagat dan agenda-agenda para Menteri itu di lapangan, rupanya tak semua agenda berkaitan dengan tugas negara, atau agenda kunjungan resmi. Ada beberapa agenda yang diselipkan selama kunjungan untuk mengurus ‘rumah sendiri’. Untuk itu, publik dan pengawas pemilu perlu memantau secara ketat agar para menteri yang mencalonkan diri sebagai anggota DPR atau menjadi juru kampanye partainya, tidak menyalahgunakan fasilitas negara.
 
Kekhawatiran penyalahgunaan fasilitas negara ini bisa saja terjadi. Bagi rakyat sulit memisahkan apakah seorang Menteri yang mengunjungi suatu daerah pada saat masa kampanye datang sebagai Menteri atau sebagai juru kampanye. Boleh jadi, seorang menteri mengjungi suatu daerah dengan anggaran Negara. Agenda kunjungan resmi hanya sebagai kamuflase saja, sementara waktu lebih banyak dialokasikan untuk membantu partai, entah sebagai juru kampanye atau sebagai pendamping para juru kampanye (jurkam)

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan masa kampanye antara 16 Maret hingga 5 April 2014, atau 21 hari. Nah, beberapa menteri sudah mengajukan cuti 6-8 hari untuk berkampanye. Yang perlu dipantau dengan ketat, adalah masa 13-15 hari yang bukan waktu cuti. Jangan sampai para menteri menggunakan hari lain yang bukan waktu cuti untuk berkampanye.

Berikut adalah daftar Menteri KIB jilid II yang mengajukan cuti kampanye.

  1. Tifatul Sembiring, Menteri Komunikasi dan Informatika, asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tifatul mengatakan telah mengajukan cuti selama 6 hari. 
  2. Suswono, Menteri Pertanian, asal Partai Keadilan Sejahtera, juga telah mengajukan cuti Kampanye, namun lama waktu cuti belum diketahui. 
  3.  Menteri Sosial Salim Segaf asal PKS juga telah mengajukan cuti, tapi lama waktu cuti belum diketahui.
  4. E.E. Mangindaan, Menteri Perhubungan dari Partai Demokrat , telah mengajukan cuti, namun lama waktu cuti belum diketahui.
  5. Jero Wacik, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral asal Partai Demokrat telah mengajukan cuti hingga 8 hari.
  6.   Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian asal Partai Amanat Nasional (PAN), juga telah mengajukan cuti, tapi lama waktu cuti belum diketahui.
  7. Syarief Hasan, Menteri Koperasi dan UKM, asal Partai Demokrat juga telah mengajukan cuti untuk berkampanye buat Partai Demokrat.
  8. Agung Laksono, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat asal Partai Golkar, telah mengajukan cuti, namun lama waktu cuti belum diketahui.
  9. Sharif Cicip Sutarjo, Menteri Kelautan dan Perikanan asal Partai Golkar, telah mengajukan cuti, tapi lama waktu cuti belum diumumkan.   
  10. M.S. Hidayat, Menteri Perindustrian asal Partai Golkar, juga akan mengajukan cuti, tapi lama waktu cuti belum diketahui.
Menteri Sekretaris  Negara Sudi Silalahi mengungkapkan ada beberapa Menteri yang sudah mengajukan secara resmi, tapi ada yang belum mengajukan secara resmi. Pertanyaan publik adalah apakah para menteri itu hanya berkampanye saat cuti? Yang dikhawatirkan mereka akan ‘mencuri-curi’ waktu dan kesempatan dengan segala cara untuk berkampanye, baik secara terang-terangan maupun secara samar-samar. Untuk itu, para pemantau pemilu perlu mengawasi secara ketat. 

Yang perlu dilihat juga, para Menteri asal partai politik, dilarang kampanye bila tidak mengajukan cuti kampanye. Menurut Undang-Undang Pemilu Nomor 8, Tahun 2012 Pasal 87, Menteri dilarang kampanye saat tidak sedang cuti. Sanksinya aktivitas kampanye bisa dihentikan atau diberi peringan oleh penyelenggara pemilu.

Lalu bagaimana dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sendiri? SBY adalah Ketua Partai Demokrat, selain sebagai Presiden RI. Karena itu, pemantau pemilu dan publik juga perlu lebih ketat memantau jangan sampai Presiden juga berkampanye untuk Partai Demokrat saat sedang tidak cuti. Presiden SBY sendiri belum diketahui apakah akan cuti sebagai Presiden Indonesia dan bekerja untuk partai dan berkampanye selama masa kampanye nanti. Dari pernyataan Sudi Silalahi, terlihat Presiden SBY memang tampaknya akan cuti beberapa hari juga, tapi waktunya belum diketahui.

Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Menteri memang perlu cuti untuk berkampanye dan bekerja untuk partainya? Seharusnya, saat menteri-menteri diangkat, mereka diminta untuk menandatangi komitmen untuk meninggalkan partainya dan bekerja untuk kepentingan umum. Saat dia dipilih menjadi Menteri, maka saat itu, dia seharusnya meninggalkan baju partai. 

Kekhwatiran berikutnya adalah bagaimana bila terjadi krisis atau kegentingan yang mengharuskan kehadiran sang Menteri? Saat itu, sang Menteri akan dilema berbakti untuk partai atau untuk negara. Karena itu, izin cuti harus disertai catatan, setiap saat bersedia dipanggil Presiden pada saat cuti. Dan bila itu yang terjadi, sang Menteri tidak boleh menolak dan mengatakan bahwa dia sedang cuti. 

Seharusnya ada beberapa pos Menteri yang dianggap strategis dan melarang Menteri untuk mengambil cuti.  Salah satunya mungkin  Menteri ESDM, yang menangani isu-isu energi. Banyak masalah-masalah dan isu-isu energi yang vital yang memerlukan kehadiran dan keterlibatan sang Menteri. Para investor migas dan pertambangan harus tahu jadwal sang Menteri. Tentu tak lucu mereka bertandang ke kantor Menteri ESDM dan dijawab, sang Menteri sedang cuti. Melarang Menteri Jero Wacik untuk tidak mengambil cuti tampaknya hampir tidak mungkin, apalagi Jero berasal dari partai Demokrat. Tentu SBY, sebagai Ketua Partai Demokrat, membutuhkan tenaga Jero Wacik untuk berkampanye dan mengoptimalkan mesin partai Demokrat. (*)