Selasa, 29 Juli 2014

Para Investor Menunggu Program 100 Hari Kerja Presiden Indonesia Terpilih Jokowi

Jokowi presiden Indonesia 2014-2019
Walaupun Prabowo-Hatta sedang mengajukan sengketa pemilihan presiden (pilpres) ke Mahkamah Konstitusi (MK), namun hampir bisa dipastikan bahwa Jokowi – Jusuf Kalla (JK) lah yang akan dilantik sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia periode 2014-2019. Para pemimpin dunia sudah mengucapkan selamat kepada Jokowi walaupun Prabowo meminta mereka untuk menunda dulu ucapan selamat tersebut. Dengan selisih hingga hampir delapan setengah juta suara, memang sulit untuk membayangkan bahwa bukanlah Jokowi presidennya.

Pasar juga menyambut positif terpilihnya Jokowi sebagai presiden Indonesia. Namun seperti yang diungkapkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Sirega, para investor sedang menunggu pemgumuman program 100 hari kerja Jokowi ketika sudah dilantik sebagai presiden nanti.

Mahendra menuturkan bahwa pergantian kepemimpinan nasional merupakan momentum yang bagus bagi peningkatan investasi. Jika presiden berkomitmen menjaga stabilitas, maka BKPM berjanji akan meningkatkan kemudahan perizinan agar arus modal yang masuk lebih besar lagi.

Ia menambahkan "Dengan pemerintahan baru, ada harapan, semangat, dan energi yang baru. BKPM  pun sekarang dengan Kemendagri terus memperbaiki kemudahan perizinan di kabupaten dan kota, serta meningkatkan kemudahan memulai usaha."

Representasi program kerja yang solid dan tim yang kuat dari Jokowi juga akan semakin meningkatkan lagi iklim investasi yang saat ini tengah tumbuh dengan cepat.  Sepanjang triwulan II 2014, BKPM mencatat gabungan realisasi investasi asing maupun domestik mencapai Rp 116,2 triliun, tertinggi sepanjang sejarah. Ini meningkat 16,4% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 99,8 triliun.

Mahendra juga menilai bahwa para investor sudah menduga bahwa kubu Prabowo-Hatta memang akan mengajukan sengketa ke MK sehingga hal tersebut sudah diantisipasi. "Paling tidak, kita kan tidak perlu masuk pemilu putaran kedua. Saya rasa semuanya akan aman dan lancar. Termasuk dengan pengajuan ke MK, itu ada dalam proses. Saya rasa, investor tetap optimistis,” jelasnya.


Semoga saja Prabowo bisa segera legowo agar roda perekonomian Indonesia bisa berputar lebih cepat lagi. Kepentingan bangsa dan negara tentunya lebih penting daripada ego sendiri semata. Adalah suatu kabar baik bagi kita semua bahwa pasar menyukai presiden terpilih kita, Joko Widodo!

Jumat, 25 Juli 2014

Dunia Investasi Menyambut Baik Presiden Indonesia Terpilih Jokowi

Jokowi blusukan ke bursa efek
Presiden terpilih Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo dan wakilnya Jusuf Kalla (JK) akhirnya ditetapkan sebagai pemenang pemilihan presiden (pilpres) 2014. Hal ini disambut dengan sangat positif oleh pasar yang ditandai dengan penguatan rupiah.

Pasar menyambut dengan sangat positif karena Jokowi dianggap sebagai kandidat yang lebih ramah investor dibandingkan dengan Prabowo. Jokowi diharapkan agar mengadopsi kebijakan-kebijakan yang ramah investor. Sektor-sektor kunci yang diharapkan dari reformasi kebijakan tersebut termasuk pula di antaranya bidang minyak dan gas, dimana Singapura memiliki perusahaan-perusahaan yang ahli di bidang tersebut.

Gundy Cahyadi, seorang dari ekonom dari Bank DBS mengatakan bahwa menurutnya pemerintahan Jokowi akan pragmatis terhadap ekonomi. Mereka memperkirakan bahwa bidang infrastruktur kekurangan setidaknya 35 hingga 40 miliar USD per tahunnya. Angka sebesar itu tentunya tidak bisa dicapai oleh investor domestik semata, namun dibutuhkan pula investasi dari luar negeri. Maka apabila Jokowi benar-benar serius menjalankan program peningkatan infrastrukturnya, Jokowi akan pro-bisnis dan pro-investor asing.

Singapura adalah investor kedua terbesar Indonesia tahun lalu, dimana Singapura melakukan investasi lebih dari 5,7 miliar SGD. Sektor investasi yang diminati Singapura di antaranya adalah bidang minyak dan gas. Gundi menambahkan bahwa salah satu sektor yang akan dikembangkan dengan signifikan adalah sektor minyak dan gas, yang mana Singapura memiliki keahlian di bidang tersebut.

Kurangnya jalan raya, pelabuhan, listrik dan sarana dasar lainnya, dan juga birokrasi yang korup membuat investor asing menjadi enggan berinvestasi di Indonesia. Banyak investor yang mengeluhkan soal ijin usaha yang terlalu rumit, panjang, dan bertele-tele. Tidak jarang proses tersebut memakan waktu hingga dua tahun. Apabila Jokowi bisa memecahkan permasalahan soal ijin rumit ini, tentu infrastruktur akan berkembang lebih cepat.

Jokowi optimis bahwa dia akan bisa menyelesaikan permasalahan tersebut. Jokowi bilang bahwa dia tidak akan segan-segan memecat oknum-oknum yang melakukan kecurangan karena menurutnya masih ada ribuan orang baik di Indonesia ini untuk menggantikan mereka.


Semoga saja pemerintahan di bawah Jokowi memang akan memberikan warna baru bagi dunia investasi, khusunya di bidang minyak dan gas. Indonesia yang sangat kaya akan sumber daya alamnya akan bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi kemashalatan rakyatnya.

Minggu, 13 Juli 2014

Pandangan Jokowi Terkait Pembangunan Infrastruktur Indonesia

pembangunan infrastruktur
Pembangunan infrastruktur adalah salah satu faktor terpenting dalam menumbuhkan tingkat perekonomian suatu negara. Hal ini pun disampaikan oleh tim Jokowi-Jusuf Kalla (JK), “Setelah Pak Jokowi naik bus dari Jakarta ke Jawa Tengah melintas Pantura dalam rangka kampanye, beliau semakin yakin bahwa pembangunan infrastruktur sebagaimana dituangkan dalam agenda aksinya sangat penting,” ujar M. Prakosa, Koordinator Tim Ahli Jokowi-JK.

Dalam visi misinya, disebutkan bahwa Jokowi-JK akan membangun infrastruktur ekonomi jalan, jembatan, pasar, saluran irigasi, pelabuhan, bandar udara, jalur kereta api, kawasan industri dan pembangkit tenaga listrik. Rel KA ganda antarkota di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi juga akan dibangun. Tak lupa pula pembangunan terminal-terminal baru untuk bongkar muat, terutama di daerah terpencil. Tidak hanya itu, Jokowi-JK juga berjanji akan membangun akses jalan dan jalur transportasi air untuk 183 kabupaten tertinggal hingga tahun 2024; pelebaran jalan dan penambahan jalan baru. Pangsa moda transportasi KA perkotaan juga akan dinaikkan menjadi 10 persen.

Jadi apa sih yang sebenarnya menjadi hambatan peningkatan infrastruktur di Indonesia? Jokowi menjawabnya, “Dana, perizinan, dan lahan, terutama pembebasannya sangat berlarut. Itu yang menjadi kendala utama dan menghambat percepatan pembangunan infrastruktur.” Selain itu, jalan, pelabuhan, maupun jembatan juga harus diperbaiki agar pertumbuhan ekonomi dapat terealisasi.

Jokowi juga menyoroti infrastruktur laut yang kerap kali dilupakan. Padahal negara kita ini namanya saja sudah nusantara: nusa – antara, terdiri dari ribuan pulau. Apabila infrastruktur laut ditingkatkan, maka niscaya pertumbuhan ekonomi akan otomatis meningkat karena pulau yang satu terhubung dengan pulau yang lain dengan lebih efektif. Ketimpangan pembangunan antara pulau yang satu dengan pulau yang lain pun niscaya akan bisa terjembatani. Jokowi juga menyampaikan bahwa sebaiknya tiap pulau memiliki deep sea port sehingga kapal kargo besar bisa merapat ke pulau. Distribusi komoditas antar pelabuhan juga pasti akan meningkat kesejahteraan rakyat pesisir.

Lebih jauh lagi, Jokowi menyatakan bahwa peranan pemerintahan dalam mendukung pengusaha juga penting dalam membangun infrastruktur Indonesia. "Untuk pembangunan ekonomi di Indonesia, kita punya potensi yang sangat besar, hanya keputusan di lapangan yang terlambat. Banyak perda yang tidak pro-dunia usaha, peraturan pemerintah juga sama. Ini yang harus dipotong," jelasnya. Regulasi dan birokrasi menjadi penghambat laju pembangunan infrastruktur. Pengusaha baik dalam negeri maupun luar negeri harus diberikan insentif dan kemudahan dalam menanamkan modalnya. Dengan disuntikkannya modal ke suatu daerah, otomatis akan meningkatkan perekonomian setempat.

Jadi tidaklah keliru apabila kita simpulkan bahwa pembangunan infrastruktur Indonesia yang menjadi salah satu program utama Jokowi disokong dengan kemudahan berinvestasi para pengusaha!

Selasa, 08 Juli 2014

Pasar Indonesia Menanggapi Positif Salam Dua Jari

IHSG
Seperti yang kita ketahui, nilai tukar rupiah belakangan ini melemah. Namun berkat adanya Jokowi-effect, nilai tukar rupiah menguat! Hal tersebut sudah kita saksikan sendiri ketika Jokowi memutuskan calon wakil presiden yang akan diusungnya adalah Jusuf Kalla. Pasar menyambut positif.

Nah yang baru lagi, nilai tukar rupiah menguat ke level tertinggi sejak Desember 2013 karena spekulasi bahwa Jokowi akan memenangkan pemlihan presiden (pilpres) kali ini! Merujuk pada data Bloomberg per 7 Juli 2014, rupiah naik 1,6 persen ke level Rp 11.688 per dolar AS sejak pukul 11.30 WIB. Kenaikan ini merupakan yang terbesar sejak 2 Desember 2013. Di pasar global, rupiah naik 1,1 persen ke level Rp 11.730 per dolar AS, atau 0,4 persen lebih lemah dibanding pasar lokal.

Terlihat bahwa para investor lebih menyukai Jokowi dibandingkan dengan Prabowo. Mungkin hal ini ada sangkut pautnya dengan sentimen anti asing yang sering dilontarkan oleh Prabowo di kampanye-kampanyenya. Beberapa waktu yang lalu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga menyatakan dukungan mereka untuk Jokowi. Apindo menilai bahwa Jokowi akan lebih pro pengusaha dan mengerti perspektif pengusaha karena Jokowi dan Jusuf Kalla memiliki latar belakang sebagai pebisnis.

Apa yang akan terjadi kiranya Prabowo yang memenangkan pilpres kali ini? Apakah rupiah akan langsung melemah drastis? Sulit diduga memang, namun sepertinya hal tersebut tidak akan disambut baik oleh dunia internasional. Berbagai media internasional sedang menyoroti pilpres Indonesia kali ini karena selain kenyataan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, faktor lainnya adalah karena salah satu calon presiden Indonesia, Prabowo Subianto, adalah pelanggar hak asasi manusia (HAM). Tentu mata internasional hendak menyaksikan apakah negara muslim terbesar di dunia ini akan dimenangkan oleh seorang pelanggar HAM! Apabila ini terjadi, tentunya hal ini bukanlah sesuatu yang positif.

Sentimen anti asing dan ultra-nasionalis yang digadang-gadang Prabowo juga membuat pasar dan para investor takut. Jangan-jangan benar nanti Prabowo akan menasionalisasi berbagai aset asing. Padahal kalau dipikir-pikir, keberadaan asing di negeri kita ini tidak merugikan, malahan menambah investasi sehingga ekonomi kita berkembang. Tidak sedikit orang asing tersebut yang sudah menikah dengan orang Indonesia dan bersama anak mereka tinggal di Indonesia. Mereka juga pastilah menginginkan kemajuan Indonesia demi anak-anak mereka.

Semoga saja isu rusuh yang berhembus sekarang-sekarang ini tidak terjadi sehingga tidak mengganggu pasar dan nilai tukar rupiah. Yang pasti-pasti damai saja. Salam dua jari!

Selasa, 01 Juli 2014

Apindo Dukung Si Nomor Dua Jadi Presiden Indonesia

Semakin mendekati tanggal pemilihan presiden, investor semakin penasaran sosok calon presiden dan wakil presiden manakah yang akan lebih menguntungkan iklim investasi? Sepertinya para investor telah menemukan titik terangnya selepas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan dukungannya kepada pasangan capres cawapres nomor dua, Jokowi – Jusuf Kalla.

Menurut Sofjan Wanandi, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Apindo, Jokowi dan JK adalah sosok yang komunikatif dan mudah diajak diskusi. "Kami mudah bertemu Jokowi dan JK. Selain itu mereka lebih gampang dan nyaman diajak kerjasama oleh buruh dan pengusaha karena mengerti permasalahan keduanya," ujar Sofjan.

Sofjan Wanandi
Sofjan juga yakin bahwa ketika Jokowi-JK yang menjalankan roda pemerintahan, mereka akan dengan terbuka bekerjasama dengan pengusaha untuk membangun perekonomian Indonesia. "Pemerintahan Jokowi-JK akan mendukung pengusaha dengan memberikan berbagai kemudahan salah satunya investasi bagi para pengusaha dalam negri. Mereka juga bisa cari jalan keluar permasalahan industri dan usaha," ucap Sofjan dengan optimis.

Lebih jauh lagi, Ketua Apindo Franky Sibarani mengatakan bahwa Jokowi dan Jusuf Kalla sama-sama memiliki background pengusaha maka seharusnya mereka sudah tahu dan mengerti perspektif pengusaha. "Kalau ada calon pemimpin memberi janji, itu satu hal. Namun karena yang berjanji ini (Jokowi) pernah berkecimpung dalam dunia ekspor dan melakukan bisnis internasional, maka kita percaya. Indonesia tidak perlu takut menghadapi berbagai kerjasama perdagangan yang diikuti Indonesia termasuk yang terkait pasar bebas. Dia memotivasi bahwa itu harus dihadapi agar Indonesia dapat memperoleh manfaat berupa surplus perdagangan," terang Franky.

Dari keterangan yang diberikan oleh para perwakilan Apindo, jelaslah bahwa pasangan Jokowi-JK dinilai akan menyuburkan iklim investasi di Indonesia. Di bawah roda pemerintahan mereka, niscaya perekonomian akan meningkat pesat karena disokong kapital yang besar. Jokowi-JK juga tidak menggunakan nasionalisme dan anti asing sebagai kampanye utama mereka, kontras berbeda dengan pasangan Prabowo-Hatta Rajasa.

Sebelum kampanye pemilihan presiden ini, Hatta Rajasa sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia gencar mengkampanyekan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau yang biasa disebut sebagai MP3EI. MP3EI sangat baik dalam menyambut investasi di Indonesia. Namun ketika Hatta mulai berkampanye sebagai wakil dari Prabowo di pemilihan presiden kali ini, ia mulai berkampanye sebaliknya dan menjadi sering menggadang-gadang sentimen nasionalisme serta anti asing.


Jadi, apabila kita ingin investasi di Indonesia ke depannya tumbuh subur, maka kita sudah tahu siapa yang harus kita pilih pada tanggal 9 Juli 2014 mendatang!