![]() |
| Platform minyak dan gas lepas pantai |
Ekonomi
Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan menggembirakan dalam beberapa tahun
terakhir. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, jumlah kelas menengah meningkat,
sektor industri berkembang. Namun, pertumbuhan ekonomi dibayangi oleh ancaman
krisis energi, khususnya pasokan listrik. Pasalnya, sektor kelistrikan tidak
sanggup mengejar peningkatan pertumbuhan permintaan akan listrik yang bertumbuh
lebih cepat.
Sebenarnya,
pemerintah beberapa tahun lalu telah membaca potensi krisis listrik ini. Karena
itu, pemerintah mencanangkan program crash program 10,000 MW listrik, yang kini
memasuki tahap kedua. Bila pada tahap pertama, pembangkit listrik kebanyakan
menggunakan batubara, maka pada crash program kedua, pemerintah memanfaatkan
gas bumi beserta renewable energi seperti panas bumi dan hydropower dan sumber
energi terbarukan lainnya.
Tapi
rupanya, pelaksanaan proyek crash program listrik tahap kedua tersebut
tersendat-sendat dan tidak sesuai rencana. Ada cukup banyak proyek yang
mangkrak atau mandeg dengan segala persoalannya. Ada proyek yang tersendat
akibat belum mendapatkan izin pemanfaatan hutan lindung khususnya bagi proyek
panas bumi (geothermal). Ada juga persoalan yang tak kalah pentingnya adalah
kekurangan pasokan gas bumi. Kekurangan pasokan gas bisa disebabkan karena memang
belum ada gas suplai dan bisa juga akibat kesulitan transportasi untuk
mengirimkan gas dari blok migas menuju pembangkit listrik PLN.
Sejauh
ini, baru ada satu FSRU (floating storage regasification unit) yaitu yang
terletak di lepasa pantai Jakarta utara yang dioperasikan oleh PT Regas. Gas
dalam bentuk liquid dipasok dari Bontang dikirim ke FSRU. Hampir 80% gas
Bontang dipasok dari Blok Mahakam, menunjukkan betapa pentingnya kesinambungan
produksi blok migas, yang sebentar lagi (2017) kontraknya berakhir. Di FSRU gas dalam bentuk liquid tadi diubah
kembali menjadi gas sebelum dikirim melalui pipa ke pembangkit listrik PLN.
Namun, ada beberapa proyek yang tidak berjalan sesuai rencana seperti FSRU
Belawan, yang kemudian dipindahkan karena berbagai alasan. FSRU Semarang, Jawa
Tengah pun saat ini masih dalam tahap perencanaan.
Kedepan
suplai gas bumi akan semakin penting karena sebagian besar pembangkit listrik
PLN akan menggunakan gas bumi. Saat ini, proses konversi dari minyak bumi ke
gas bumi sedang berlangsung. Alasannya, harga gas bumi lebih murah dibanding
harga minyak. Disamping itu, produksi minyak terus berkurang, sehingga
ketergantungan pada impor minyak semakin besar. Tentu impor minyak tidak
efisien bagi pemerintah dan PLN sendiri. Karena itu, sudah tepat arah kebijakan
PLN dan pemerintah untuk menggunakan gas bumi.
Untuk
mendukung permintaan gas bumi dari dalam negeri yang terus meningkat, seiring
dengan pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan gas bumi oleh PLN,
industri dan rumah tangga, maka produksi gas bumi harus meningkat.
Persoalannya, produksi gas bumi kita cenderung stabil dan produksi yang ada
saat ini sudah dikontrakkan ke pembeli asing. Hanya sebagian kecil produksi gas
bumi yang dialokasikan ke pasar dalam negeri. Produsen gas bumi tidak bisa
disalahkan karena pembeli sudah menandatangani kontrak sebagai off-taker, jauh
sebelum proyek gas bumi berproduksi. Contoh, proyek LNG Tangguh. Sebelum proyek
tersebut dikembangkan, operator bersama pemerintah sudah harus mengunci
pembeli. Bila pembeli tidak ada, maka proyek belum akan dikerjakan. Ini sesuai
dengan karakter produk gas bumi, yakni cepat menguap. Tidak bisa disimpan
lama-lama. Karena itu, sebelum proyek dikerjakan, pembeli sudah harus ada di
tangan. Boleh jadi, saat itu, belum ada permintaan gas bumi (LNG) dari dalam
negeri, sehingga sebagian besar pembeli berasal dari luar negeri. Namun, ada
beberapa proyek gas, yang sebagian LNG dialihkan ke pasar dalam negeri termasuk
dari proyek Gas Bontang.
Kedepan,
ada beberapa proyek gas yang diharapkan dapat memenuhi permintaan dalam negeri,
seperti proyek gas Senoro di Sulawesi, proyek gas Kepodang Jawa Tengah, Blok
Masela (2018-2019), proyek train 3 BP Tangguh dan proyek East Natuna. Kalaupun
proyek-proyek gas tersebut mulai berproduksi secara komersil, tetap saja
kebutuhan lebih tinggi dari suplai. Karena itu, kegiatan eksplorasi untuk
mencari dan meningkatkan cadangan perlu didorong.
Namun,
eksplorasi migas tidak semudah dulu lagi karena sebagian besar potensi gas saat
ini berada di daerah-daerah frontier di Indonesia Timur dan lepas pantai.
Artinya, biaya dan risiko eksplorasi migas kian mahal. Hanya pemain-pemain
besar yang punya kemampuan untuk menanggung risiko kegagalan. Seperti data
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dalam kurun waktu 2009-2013,
sebanyak 16 kontraktor Kontrak KerjaSama (KKKS) asing mengalami kerugian hingga
1,9 miliar dolar AS atau Rp19 triliun akibat kegagalan dalam menemukan cadangan
migas. Sebagian kegiatan ekplorasi dilakukan di lepas pantai, termasuk yang
berlokasi di laut dalam. Dalam sistem PSC yang Indonesia anut, bila KKKS gagal
mendapatkan cadangan, maka kerugian mereka tanggung sendiri, tapi bila
menemukan cadangan, mereka dapat mengklaim biaya yang telah dikeluarkan untuk
eksplorasi ke pemerintah dari hasil produksi minyak dan gas.
Karena
itu, mengingat tingginya kebutuhan gas bumi dari pasar domestik dan mahalnya
biaya eksplorasi, maka sewajarnya bila pemerintah mendukung kegiatan eksplorasi
migas. Hambatan-hambatan teknis dan non-teknis perlu segera diatasi, termasuk
perizinan, over-lapping claim lahan, dan lain-lain. Insentif juga perlu
diberikan seperti yang telah dijanjikan oleh pemerintah.
Pemerintah
dapat mengundang investor migas yang baru maupun pelaku industri migas yang
telah beroperasi di Indonesia. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah
investor migas yang berpengalaman, mampu mengambil risiko, punya komitmen
investasi untuk beroperasi di Indonesia dan memahami karakter dan industri
migas nasional. Kita butuh pelaku-pelaku industri migas yang terbaik.
Indonesia
beruntung sebagian besar pemain-pemain industri migas global beroperasi di
Indonesia, baik yang berasal dari benua Amerika (Chevron, ExxonMobil), Eropa
(BP, Total E&P, Shell) atau pun Asia (Inpex, PTTEP dan Petronas). Tentu
didukung oleh pemain utama dalam negeri yakni Pertamina. Pemerintah dan pelaku
industri migas perlu bergandengan tangan untuk mengatasi ancaman krisis energi
yang dihadapi Indonesia kedepan. Tentu eksplorasi merupakan salah satu upaya
mengatasi krisis energi. Upaya lain adalah mendiversifikasi sumber energi,
termasuk energi baru dan terbarukan. Semua potensi sumber energi perlu
dioptimalkan.
Untuk
menarik investor migas, pemerintah perlu mempertahankan iklim investasi yang
kondusif, khususnya untuk eksplorasi dan produksi. Pemerintah perlu mengirim
pesan yang jelas ke pelaku industri atau investor migas bahwa Indonesia
merupakan negara yang friendly
terhadap investasi, baik investasi asing maupun investasi domestik. Sebagai
bagian dari mengirim pesan positif tadi, tidak salah bila
pemerintah mempetimbangkan untuk memperpanjang beberapa kontrak pengembangan blok migas yang akan berakhir,
seperti Blok Siak, Blok Mahakam dan beberapa blok lainnya. Bila tidak diperpanjang, investor migas dapat didorong untuk mengembangkan proyek-proyek migas lainnya. Namun, bila pemerintah mengutamakan kesinambungan produksi, maka perpanjangan bisa juga jadi solusi.(*)

Mantap gan... Artikelnya enak untuk disimak.
BalasHapusRegard, Ganti Oli.