Kamis, 11 Desember 2014

Perusahaan Migas Akan Menunda Investasi

IPA
Asosiasi Perusahaan Minyak Indonesia, atau Indonesia Petroleum Association (IPA) memberikan pernyataan bahwa mereka memprediksikan penurunan harga minyak dunia akan berdampak pada kegiatan produksi perusahaan-perusahaan migas di dalam negeri.

Direktur IPA Lukman Mahfoedz menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan migas akan menunda sejumlah kegiatan produksi di tahun depan yang disebabkan oleh penurunan harga minyak ini.

"Dengan harga minyak yang turun, berdasarkan konsultan Norwegia, ada proyek-proyek yang totalnya senilai US$ 150 miliar (Rp 1.800 triliun) di Indonesia itu on hold (ditunda)," ujar Lukman.

Akibat dari keadaan tersebut, perusahaan-perusahaan banyak yang harus mengkaji ulang rencana keuangannya di tahun depan. Diperkirakan bahwa investasi atau belanja modal perusahaan migas tahun depan akan turun 20% dibandingkan tahun ini.

"Penurunan harga minyak dunia adalah keadaan yang luar biasa. Banyak perusahaan minyak and gas kini mengkaji ulang pengeluaran operasional dan eksplorasi. Saya perkirakan proyek eksplorasi tahun depan lebih sedikit dari tahun ini. Menurut saya estimasinya capex (belanja modal) itu akan sekitar 20% di kira-kira pengurangannya," pungkasnya.

Lebih lanjut lagi Lukman menjelaskan bahwa langkah yang diambil perusahaan migas ini merupakan hal yang biasa saja, untuk menjaga tingkat pendapatan perusahaan. "Dan supaya kita bisa bersaing, sehingga net income (laba) bisa dipertahankan," kata dia.

Sementara itu, sebenarnya kondisi ini juga bisa disikapi dengan serius oleh pemerintah dengan sesegera mungkin memangkas rantai birokrasi.

Birokrasi yang lebih ramping niscaya bisa membantu perusahaan-perusahaan migas dalam menjaga keseimbangan keuangannya. Karena dengan birokrasi yang lebih ramping, maka biaya perizinan yang harus dikeluarkan pun dapat dikurangi.

"Perizinan harusnya bisa dipermudah, sehingga itu menurunkan biaya," imbuhnya.


Nah kalau sudah tahu bahwa kejadian demikian akan terjadi, seharusnya antisipasi dari sekarang. Kalau memang ada perusahaan migas yang tertarik untuk investasi ya difasilitasi saja. Seperti Total E&P Indonesie berniat untuk investasi di Blok Mahakam misalnya, seharusnya itu disambut baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar