![]() |
| Johannes Widjanarko |
Ada kabar yang sedikit tidak mengenakkan yang datang dari
dunia migas Indonesia. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak
dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menargetkan bahwa investasi hulu migas nasional
2015 hingga US$ 22,2 miliar, atau lebih rendah 13,3 persen ketimbang target
tahun lalu yang berada di kisaran US$ 25,64 miliar. Diperkirakan bahwa
menurunnya target investasi tersebut dikarenakan oleh pelemahan harga minyak
dunia yang berefek pada ditundanya sejumlah kegiatan produksi kontraktor
kontrak kerjasama (KKKS).
"Salah satunya itu. Soalnya penentuan harga ICP
(Indonesian Crude Price) juga dipengaruhi harga minyak dunia dan investasi
tentunya," ujar Wakil Kepala SKK Migas Johannes Widjanarko.
Dari investasi sebesar US$ 22,2 miliar, sebanyak US$ 14,8
miliar atau sekitar 66,4 persen akan digunakan untuk kegiatan pengeboran 952
sumur work over dan pemeliharaan 38.914 sumur. Adapun biaya pengembangan 783
sumur, diprediksi menelan dana US$ 4,7 miliar atau sekitar 21,2 persen.
Sedangkan sisanya atau sekitar US$ 2,7 miliar akan digunakan untuk menutupi
biaya-biaya lainnya seperti administrasi dan biaya umum.
"Tapi kami pastikan kegiatan serta rencana investasi
akan sesuai dengan rencana WP&B 2015 (Work Program & Budget) meski
harga dunia sudah menurun," ujar Widjanarko.
Selain besaran investasi, SKK Migas juga telah setuju atas
usulan yang diajukan oleh KKKS mengenai besaran produksi minyak tahun depan.
Dalam WP&B 2015, produksi minyak Indonesia diprediksi hanya akan mencapai
849.750 barel per hari (bph) atau lebih rendah dari target lifiting dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang menargetkan produksi minyak
di angka 900.000 bph. "Kami akan terus mendorong agar KKKS tetap bisa
menjaga produksinya tahun depan. Dan kami optimistis dengan angka itu," ujarnya.
Walaupun demikian, Deputi Pengedalian Perencanaan SKK Migas,
Aussie Gautama menilai bahwa fenomena anjloknya harga dunia turut memberi
keuntungan tersendiri bagi KKKS dalam menemukan cadangan migas baru. Hal tersebut
dikarenakan anjloknya harga minyak akan berimbas pada turunanya biaya sewa rig
atau fasilitas pengeboran sumur migas.
"Ya walaupun perusahaan akan menahan investasi dan
produksi, tapi KKKS khan jadi bisa melakukan eksplorasi sebanyak-banyaknya
lantaran harga sewa rig jadi lebih murah. Poin ini yang menjadi hikmah di
tengah anjloknya harga minyak," pungkas Aussie.
Dengan menurunnya investasi migas di Indonesia, maka sudah
sewajarnya apabila Indonesia memanfaatkan sebaik-baiknya investasi yang ada
tersebut dan supaya memberikan insentif agar Indonesia lebih menarik lagi bagi
investor. investasi yang diajukan seperti di Blok Mahakam misalnya, sebaiknya
diterima dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar