Kamis, 21 November 2013

Kunjungan CEO Rusal, PM Belanda dan Momentum Investasi

PM Belanda Mark Rutte dan Gubernur DKI Jokowi
Indonesia kedatangan beberapa tamu penting dalam beberapa hari terakhir, diantaranya Oleg Deripaska, CEO En+ Group yang juga merupakan CEO dari UC RUSAL, perusahaan tambang asal Rusia. Ini merupakan kedatangan untuk kedua kali Oleg dalam 2 bulan terakhir. Sebelumnya Oleg ke Bali untuk menghadiri APEC Summit. Tamu berikutnya adalah Perdana Menteri Belanda Mark Rutte. PM Rutte tidak datang sendiri, tapi dia membawa rombongan satu kampung. PM Rutte didamping Menteri Perdagangan dan Menteri Pertanian Belanda serta lebih dari seratus pemimpin perusahaan asal negeri kincir angin tersebut.


Kunjungan kedua tamu penting tersebut terjadi saat hubungan Indonesia dan Australia sedang panas-panasnya menyusul bocornya ulah inteligen Australia yang melakukan penyadapan terhadap ponsel milik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan istri Ani Yudhoyono serta beberapa pejabat tinggi lainnya. Kontan, ulah negeri Kanguru tersebut menyulut amarah pada petinggi Indonesia lantaran sejauh ini Indonesia menganggap Australia sebagai kawan, bukan musuh yang perlu dicurigai dan dimata-matai, demikian pun sebaliknya. Presiden SBY pun langsung membeku latihan militer yang sedang berlangsung dan mengevaluasi kembali hubungan dengan Australia, sampai pemerintah Australia memberikan penjelasan terkait penyadapan tersebut.




Namun, di tengah ketegangan hubungan politik tersebut, hubungan dagang antara kedua negara sejauh ini belum terkena dampak. Paling tidak, itu yang disampaikan oleh beberapa menteri dan pejabat-pejabat senior lainnya. Menteri BUMN, Dahlan Iskan, mengatakan ketegangan politik jangan sampai berpengaruh pada hubungan dagang antara kedua negara. Demikian juga, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) berharap ketegangan politik tersebut tidak harus mempengaruhi hubungan dagang antar kedua negara.
CEO Rusal



Di tengah hiruk-pikuk masalah penyadapan tersebut, perhatian sebagian publik tetap mengarah ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sedang menangani berbagai kasus korupsi besar, di antaranya bail-out Bank Century yang hingga kini masih belum terlihat ujungnya, kasus gratifikasi yang melibatkan mantan ketua SKK Migas Rudi Rubiandini, kasus penyuapan yang melibatkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, yang juga mantan politisi Golkar, kasus mark-up proyek kompleks olahraga Hambalang, Bogor, yang melibatkan petinggi-petinggi atau mantan petinggi Partai Demokrat, kasus suap sapi yang melibatkan mantan tokoh teras Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan masih banyak lagi.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, kedatangan kedua ‘tamu’ penting tersebut tetap menarik perhatian publik. Oleg, yang merupakan salah satu orang kaya Russia, rupanya kesengsem untuk berinvesasi di Indonesia. Ia bertemu pejabat-pejabat teras Indonesia, termasuk Koordinator Menteri Perekonomian Hatta Rajasa.

CEO UC Rusal tersebut rupanya berminat untuk membangun smelter senilai US$6 miliar di Indonesia.  Oleg melihat ada peluang untuk membangun smelter untuk memproses bauksit menjadi alumina. Peluang membangun smelter terbuka mengingat pemerintah Indonesia berencana melarang ekspor bahan mentah produk-produk mineral mulai tahun 2014 dan meminta perusahaan-perusahaan pertambangan untuk membangun smelter dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia mengekspor produk yang bernilai tambah.

Menteri Hatta Rajasa mengatakan UC Rusal akan menggandeng mitra lokal di Indonesia yaitu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk untuk pembangunan pabrik pengolahan (smelter) yang direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton per tahun ini. Namun, sebelum rencana investasi tersebut direalisasi, Oleg datang untuk mendapatkan penjelasan resmi dan kepastian dari pemerintah dalam menerapkan peraturan tersebut, serta ingin mendapat penjelasan terkait kondisi iklim investasi di Indonesia, apalagi Indonesia akan mengadakan pemilihan umum tahun depan.




PM Belanda tidak sekadar ‘blusukan’ ke Waduk Pluit bersama Gubernur DKI Jokowi dan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, atau bernostalgia mengunjungi tempat-tempat yang ada hubungan emosional dengan Belanda. Kedua negara, Indonesia dan Belanda, membahas dan setuju untuk meningkatkan kerjasama mulai dari ketahanan energi, ketahanan pangan hingga coastal management. Salah satu perusahaan migas Belanda, Shell, akan mengembangkan Blok Masela bersama mitranya Inpex Corporation (operator).

Lalu apa yang kita petik dari kedatangan kedua tamu di atas? Pertama, Indonesia masih menarik bagi investor luar negeri. Namun, investor juga ingin mendapat kepastian terkait rencana investasi mereka karena itu, perlu dukungan iklim investasi yang kondusif. Kedua, agenda politik Pemilu tidak harus membuat investor lari dari Indonesia. Agenda politik tetap harus jalan, sementara kegiatan ekonomi tetap harus bergerak. Tentu dengan catatan, pemerintah mampu menjamin, agenda politik tahun depan melalui proses yang benar dan tepat, tidak terjadi kecurangan yang dapat menyulut kericuhan.

Memasuki tahun politik, penting bagi pemerintah untuk menjaga iklim investasi yang kondusif, tidak hanya di sektor pertambangan tapi juga di sektor industri minyak dan gas bumi, yang masih membutuhkan investasi besar, serta industri-industri lain. Karakter investasi di sektor pertambangan maupun industri migas bersifat jangka panjang. Investasi yang dilakukan tahun ini, misalnya, baru akan terlihat hasil atau returnnya dalam 5-10 tahun kedepan. Karena itu, wajar bila pelaku industri berharap agenda politik tidak harus mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.

Pemerintah juga dituntut untuk menghilangkan berbagai keraguan dan ketidakpastian dalam berinvestasi, termasuk isu perpanjangan blok-blok migas yang kontraknya akan berakhir dalam 5 tahun mendatang. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar