Beberapa waktu lalu Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima kedatangan CEO INPEX Corporation Toshiaki
Kitamura di kantor Kepresidenan. Kedatangan CEO Inpex tersebut memiliki arti
penting bagi hubungan bisnis kedua negara, khususnya investasi di bidang
energi. Apalagi kedatangan Toshiaki terjadi saat ekonomi Indonesia sedang
dilanda guncangan akibat melemahnya nilai tukar rupiah hingga mendekati angka
Rp12,000.
Tidak perlu seorang pakar
ekonomi untuk membaca guncangan yang terjadi pada ekonomi. Pada tataran ekonomi
riil, beberapa perusahaan seperti di Cakung, Jakarta Utara, telah merumahkan
ratusan karyawan. Harga properti yang tadi meroket, kini bahkan ditawar dan
dijual dengan diskon gede-gedean. Seorang penyewa crane bahkan terpaksa menjual
beberapa asetnya untuk membayar gaji karyawan karena pemilik proyek atau
kontraktor utama tiba-tiba membatalkan penyewaan alat karena proyek properti
sementara ditahan.
Pada tingkat makro, ekspor
menurun akibat melambatnya ekonomi di negara tujuan ekspor Indonesia, sementara
kebutuhan impor cenderung stabil, antara lain karena impor minyak masih tinggi
untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri yang masih haus belanja. Lihat
saja jalan-jalan di Ibu kota, kepadatan bahkan masih menggila, sehingga
konsumsi bahan bakar malah meningkat.
Kembali ke soal ekspor tadi, akibat
ketidakseimbangan ekspor dan impor, defisit neraca perdagangan (current account
deficit) membengkak, sebuah peringatan bagi pemerintah. DI bidang properti,
beberapa pengamat mengirim sinyal ‘blip blip’ agar hati-hati untuk mencegah
terjadinya bubble di sektor properti.
Walaupun, sebagain pengamat masih sangat yakin bubble property tidak akan
terjadi karena kredit property masih tergolong rendah, yakni sekitar 14
percent.
Nah, pada kondisi ekonomi
seperti ini, tentu diperlukan langkah-langkah countercylical agar ekonomi tidak menukik, tapi melandai dan
selanjutnya bangkit kembali. Salah satu cara adalah mendorong investasi, baik
investasi asing maupun domestik.
![]() |
| Maket FLNG Proyek Blok Masela |
Maka pada konteks ini,
kedatangan CEO Inpex ke Indonesia dalam rangka menyampaikan komitmen
investasinya dirasa penting. Apalagi INPEX Corporation terlibat di beberapa
proyek besar di Indonesia, terutama proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok
Masela serta yang tak kalah penting adalah proyek Blok Mahakam. Kedua proyek
tersebut sama-sama punya arti penting, bedanya, Blok Mahakam sudah berproduksi,
tinggal dilanjutkan, dengan catatan pemerintah Indonesia memperpanjang atau
melakukan modifikasi skema Hak Pengelolaan Blok Mahakam dengan melibatkan
kontraktor yang sekarang, yakni Total E&P Indonesie dan Inpex, dan pemain
baru, katakanlah Pertamina.
Total E&P Indonesie sendiri
sudah menyatakan komitmennya untuk berinvetasi sebesar US$7,3 miliar dalam 5
tahun kedepan. Inpex sendiri, disamping berinvestasi di Blok Mahakam, juga akan
fokus pada pengembangan proyek lepas pantai Blok Masela yang diperkirakan akan
menelan investasi sebesar US$5.5 miliar atau sekitar Rp 60 triliun. Rencana
investasi pada kedua blok tersebut tentu merupakan ‘bonus’ bagi ekonomi
Indonesia tatkala negara ini membutuhkan aliran dana investasi (FDI).
Inpex sendiri juga menanyakan
kelanjutan kontrak pengelolaan Blok Mahakam yang akan berakhir 2017. Menteri
Energi Jero Wacik mengatakan permintaan Inpex, dan Total E&P Indonesie
sebelumnya, sedang dievaluasi pemerintah. Tampaknya operator berharap keputusan
terkait kontrak pengelolaan Blok Mahakam dapat dilakukan tahun ini karena tahun
depan pemerintah sudah akan fokus pada Pemilihan Umum.
Presiden Yudhoyono ditengah
guncangan yang sedang melanda Indonesia menyadari pentingnya investasi untuk
menggerakkan roda ekonomi Indonesia saat ini. Presiden mengatakan
di tengah instabilitas kondisi ekonomi dunia serta penurunan kinerja ekspor
belakangan ini, banyak negara termasuk Indonesia yang membutuhkan dukungan
investasi.
“Kami perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga
pertumbuhan ekonomi. Dalam pandangan saya, di tengah situasi global sekarang
ini, kita harus menjaga investasi dan investasi,” ujar Presiden SBY.
Proyek eksplorasi pada lapangan gas Abadi di Blok Masela saat
ini masih dalam tahap front end engineering design (FEED) dan belum
melakukan produksi. Pada tahap awal, Proyek Abadi ditargetkan dapat memroduksi
LNG sebanyak 2,5 juta ton per tahun (MTPA) yang akan diproduksi di fasilitas
terapung atau floating LNG (FLNG). Jangka waktu proyek ini berlangsung selama
30 tahun mulai 1998 – 2028. Kepada SBY
CEO Inpex juga meminta dukungan pemerintah Indonesia untuk melanjutkan proyek
tersebut. Entah dukungan apa yang diinginkan Inpex, tidak dijelaskan oleh
laporan media-media.
Namun, bila kita telusuri, tampaknya Inpex ingin jaminan
kelanjutan keamanan investasinya di proyek Masela. Inpex ingin ada kepastian
perpanjangan kontrak sebelum proyek tersebut berproduksi karena masa produksi
10 tahun (2018-2028), tidak akan cukup untuk pengembalian investasi. Apalagi
selain lapangan Abadi, masih ada lapangan lain di Blok Masela yang belum
dieksplorasi. Jadi wajar bila Inpex ingin meminta perpanjangan sebelum
waktunya. Peraturan saat ini hanya membolehkan perusahaan untuk meminta
perpanjangan 10 tahun sebelum kontrak berakhir. Apakah pemerintah akan
mengabulkan permintaan Inpex? Belum ada jawaban saat ini.
Benang merah dari pernyataan
SBY di atas bahwa pemerintah mendukung dan mendorong masuknya investasi di
Indonesia di tengah guncangan terhadap ekonomi. Investasi di sektor migas
seharusnya masih dapat didorong karena investasi di sektor migas sifatnya
jangka panjang. Sikap tegas pemerintah terhadap pentingnya investasi ini
menjadi catatan positif bagi investor, baik yang sudah berada di Indonesia
maupun yang akan masuk ke Indonesia. Tentu tidak bisa dianggap sepele adalah
pentingnya menjaga iklim investasi. Dan ini, tidak saja menjadi PR pemerintah
tapi juga seluruh elemen masyarakat. (*)

