Kamis, 26 September 2013

Komitmen Pemerintah Mendukung Investasi Migas



Proyek Lapangan Abadi, Blok Masela
Beberapa waktu lalu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima kedatangan CEO INPEX Corporation Toshiaki Kitamura di kantor Kepresidenan. Kedatangan CEO Inpex tersebut memiliki arti penting bagi hubungan bisnis kedua negara, khususnya investasi di bidang energi. Apalagi kedatangan Toshiaki terjadi saat ekonomi Indonesia sedang dilanda guncangan akibat melemahnya nilai tukar rupiah hingga mendekati angka Rp12,000.

Tidak perlu seorang pakar ekonomi untuk membaca guncangan yang terjadi pada ekonomi. Pada tataran ekonomi riil, beberapa perusahaan seperti di Cakung, Jakarta Utara, telah merumahkan ratusan karyawan. Harga properti yang tadi meroket, kini bahkan ditawar dan dijual dengan diskon gede-gedean. Seorang penyewa crane bahkan terpaksa menjual beberapa asetnya untuk membayar gaji karyawan karena pemilik proyek atau kontraktor utama tiba-tiba membatalkan penyewaan alat karena proyek properti sementara ditahan.

Pada tingkat makro, ekspor menurun akibat melambatnya ekonomi di negara tujuan ekspor Indonesia, sementara kebutuhan impor cenderung stabil, antara lain karena impor minyak masih tinggi untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri yang masih haus belanja. Lihat saja jalan-jalan di Ibu kota, kepadatan bahkan masih menggila, sehingga konsumsi bahan bakar malah meningkat.

Kembali ke soal ekspor tadi, akibat ketidakseimbangan ekspor dan impor, defisit neraca perdagangan (current account deficit) membengkak, sebuah peringatan bagi pemerintah. DI bidang properti, beberapa pengamat mengirim sinyal ‘blip blip’ agar hati-hati untuk mencegah terjadinya bubble di sektor properti. Walaupun, sebagain pengamat masih sangat yakin bubble property tidak akan terjadi karena kredit property masih tergolong rendah, yakni sekitar 14 percent.

Nah, pada kondisi ekonomi seperti ini, tentu diperlukan langkah-langkah countercylical agar ekonomi tidak menukik, tapi melandai dan selanjutnya bangkit kembali. Salah satu cara adalah mendorong investasi, baik investasi asing maupun domestik.

Maket FLNG Proyek Blok Masela
Maka pada konteks ini, kedatangan CEO Inpex ke Indonesia dalam rangka menyampaikan komitmen investasinya dirasa penting. Apalagi INPEX Corporation terlibat di beberapa proyek besar di Indonesia, terutama proyek pengembangan Lapangan Abadi di Blok Masela serta yang tak kalah penting adalah proyek Blok Mahakam. Kedua proyek tersebut sama-sama punya arti penting, bedanya, Blok Mahakam sudah berproduksi, tinggal dilanjutkan, dengan catatan pemerintah Indonesia memperpanjang atau melakukan modifikasi skema Hak Pengelolaan Blok Mahakam dengan melibatkan kontraktor yang sekarang, yakni Total E&P Indonesie dan Inpex, dan pemain baru, katakanlah Pertamina.

Total E&P Indonesie sendiri sudah menyatakan komitmennya untuk berinvetasi sebesar US$7,3 miliar dalam 5 tahun kedepan. Inpex sendiri, disamping berinvestasi di Blok Mahakam, juga akan fokus pada pengembangan proyek lepas pantai Blok Masela yang diperkirakan akan menelan investasi sebesar US$5.5 miliar atau sekitar Rp 60 triliun. Rencana investasi pada kedua blok tersebut tentu merupakan ‘bonus’ bagi ekonomi Indonesia tatkala negara ini membutuhkan aliran dana investasi (FDI).

Inpex sendiri juga menanyakan kelanjutan kontrak pengelolaan Blok Mahakam yang akan berakhir 2017. Menteri Energi Jero Wacik mengatakan permintaan Inpex, dan Total E&P Indonesie sebelumnya, sedang dievaluasi pemerintah. Tampaknya operator berharap keputusan terkait kontrak pengelolaan Blok Mahakam dapat dilakukan tahun ini karena tahun depan pemerintah sudah akan fokus pada Pemilihan Umum.

Presiden Yudhoyono ditengah guncangan yang sedang melanda Indonesia menyadari pentingnya investasi untuk menggerakkan roda ekonomi Indonesia saat ini. Presiden mengatakan di tengah instabilitas kondisi ekonomi dunia serta penurunan kinerja ekspor belakangan ini, banyak negara termasuk Indonesia yang membutuhkan dukungan investasi.

“Kami perlu menjaga stabilitas nilai tukar dan menjaga pertumbuhan ekonomi. Dalam pandangan saya, di tengah situasi global sekarang ini, kita harus menjaga investasi dan investasi,” ujar Presiden SBY.

Proyek eksplorasi pada lapangan gas Abadi di Blok Masela saat ini masih dalam tahap front end engineering design (FEED) dan belum melakukan produksi. Pada tahap awal, Proyek Abadi ditargetkan dapat memroduksi LNG sebanyak 2,5 juta ton per tahun (MTPA) yang akan diproduksi di fasilitas terapung atau floating LNG (FLNG). Jangka waktu proyek ini berlangsung selama 30 tahun mulai 1998 – 2028.  Kepada SBY CEO Inpex juga meminta dukungan pemerintah Indonesia untuk melanjutkan proyek tersebut. Entah dukungan apa yang diinginkan Inpex, tidak dijelaskan oleh laporan media-media.

Namun, bila kita telusuri, tampaknya Inpex ingin jaminan kelanjutan keamanan investasinya di proyek Masela. Inpex ingin ada kepastian perpanjangan kontrak sebelum proyek tersebut berproduksi karena masa produksi 10 tahun (2018-2028), tidak akan cukup untuk pengembalian investasi. Apalagi selain lapangan Abadi, masih ada lapangan lain di Blok Masela yang belum dieksplorasi. Jadi wajar bila Inpex ingin meminta perpanjangan sebelum waktunya. Peraturan saat ini hanya membolehkan perusahaan untuk meminta perpanjangan 10 tahun sebelum kontrak berakhir. Apakah pemerintah akan mengabulkan permintaan Inpex? Belum ada jawaban saat ini.

Benang merah dari pernyataan SBY di atas bahwa pemerintah mendukung dan mendorong masuknya investasi di Indonesia di tengah guncangan terhadap ekonomi. Investasi di sektor migas seharusnya masih dapat didorong karena investasi di sektor migas sifatnya jangka panjang. Sikap tegas pemerintah terhadap pentingnya investasi ini menjadi catatan positif bagi investor, baik yang sudah berada di Indonesia maupun yang akan masuk ke Indonesia. Tentu tidak bisa dianggap sepele adalah pentingnya menjaga iklim investasi. Dan ini, tidak saja menjadi PR pemerintah tapi juga seluruh elemen masyarakat. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar