| Kota Nelayan, Labuan Bajo, Flores, NTT |
Banyak cara untuk menarik investasi di Indonesia, khususnya di industri pariwisata. Salah satunya, menyelenggarakan even wisata bahari seperti Sail Komodo yang acara puncaknya telah diselenggarakan pada tanggal 14 September 2013.
Perayaan puncak Sail Komodo dihadiri oleh para peserta Sail Komodo dari berbagai negara, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, para Menteri Kabinet, para pengusaha yang bergerak di industri pariwisata, pejabat pemerintah daerah dan beberapa duta besar negara sahabat.
Perayaan puncak Sail Komodo diselenggarakan di Pantai Pede, Labuan Bajo, Flores. Pede dalam bahasa lokal, Manggarai, berarti 'titipan' atau 'pesan. Dalam bahasa Indonesia kita sering mendengar kata PD, atau percaya diri. Ya, Sail Komodo memberi pesan kepada dunia luar bahwa NTT dan Indonesia timur pada umumnya siap membuka diri bagi kemajuan industri pariwisata.
Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi yang letaknya paling selatan di Indonesia dan berbatasan dengan dua negara tetangga, Australia dan Timor Leste yang memilih memisahkan diri dari Indonesia setelah Reformasi (1999). Sayangnya, provinsi NTT merupakan salah satu provinsi termiskin di Indonesia dilihat dari tingkat PDRB (pendapatan domestik regional bruto).
Karena itu berbagai pihak berharap kegiatan wisata bahari ini dapat menggairahkan ekonomi provinsi tersebut dan Indonesia timur pada umumnya. "Acara-acara seperti Sail Bunaken, Sail Banda, Sail Wakatobi, Sail
Morotai, dan Sail Komodo, semuanya merupakan bagian dari tonggak-tonggak
sejarah kebangkitan negeri kita di era Pasifik," ujar Presiden Yudhoyono
dalam sambutannya di Pantai Pede, Labuan Bajo, NTT, Sabtu (14/9/2013).
Menurut Presiden Yudhoyono Sail Komodo 2013 yang bertema: 'Jembatan Emas Menuju
Nusa Tenggara Timur menjadi Destinasi Utama Pariwisata Dunia', memiliki
makna yang sangat penting bagi percepatan pembangunan di Nusa Tenggara
Timur. Melalui momentum Sail Komodo 2013, Presiden berharap
Provinsi Nusa Tenggara Timur menjadi pintu gerbang selatan pembangunan Indonesia , sekaligus destinasi utama pariwisata dunia.
"Banyaknya
kapal-kapal niaga dan pariwisata yang singgah di Kawasan Nasional Taman
Komodo serta pulau-pulau lain yang tersebar di Kawasan Nusa Tenggara
Timur, Tengah, dan Barat, insya Allah akan makin menggairahkan
pariwisata di kawasan ini," harapnya.
Dari sisi ekonomi, provinsi NTT berada dan berdekatan dengan dua proyek LNG raksasa Indonesia yakni proyek Blok Masela (sekitar 300 km ke arah timur dari pulau Lembata).
Berbagai pihak berharap, Sail Komodo dapat menggairahkan kegiatan ekonomi di NTT dan Indonesia timur pada umumnya, tidak hanya industri pariwisata tapi juga industri-industri lain. Diharapkan industri pariwisata membuka mata investor, tidak hanya investor lokal tapi juga investor asing untuk semakin mengarahkan investasi mereka ke bagian timur Indonesia.
Setelah puncak acara Sail Komodo selesai, pertanyaan berikutnya adalah "What Next"? Pemerintah, seperti yang diberitakan oleh berbagai media telah menganggarkan dana APBN yang tidak sedikit yakni Rp3,7 triliun yang disalurkan melalui berbagai kementerian. Kementerian PU misalnya mendapat dana dan tugas untuk membangun berbagai proyek infrastruktur mulai dari jalan, air minum hingga perpanjangan landasan bandara Komodo.
Departemen Penerangan mendapat alokasi dana untuk penyebarluasan informasi Sail Komodo. Demikian juga departemen atau kementerian lainnya.
Kegiatan Sail Komodo menyisakan berbagai pertanyaan. Disamping cerita sukses, juga banyak kritikan terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut. Kritikan yang muncul ke permukaan adalah kuatnya peran pemerintah pusat dalam penyelenggaraan acara itu dan tidak melibatkan masyarakat lokal. Masyarakat lokal hanya berfungsi sebagai penonton dan pelengkap penderita. "Ini pesta mereka, bukan pesta kami". Demikian jerita hati berbagai kalangan dan penduduk lokal di Labuan Bajo yang terekam dari berbagai sumber dan sosial media.
Acara yang sifatnya internasional pun "hanya" disiarkan secara langsung melalui TVRI, yang sinyalnya sering mengalami gangguan selama acara berlangsung. Lagi pula berapa orang Jakarta dan Indonesia yang menonton TVRI?. Bukannya mengecilkan TVRI, tapi rating acara-acara TV pemerintah itu jarang mendapatkan rating tinggi.
Dari sisi penyelenggaraan acara dan biaya yang dikeluarkan pemerintah, memang acara Sail Komodo tampak tidak sebanding. Bila Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) jeli, maka acara seperti Sail Komodo ini seharusnya juga dibidik agar kebocoran dapat ditindaklanjuti dan menjadi pelajaran dari berbagai pihak untuk perbaikan di tahun-tahun berikutnya.
Labuan Bajo adalah kota nelayan yang kecil. Dulu orang bersusah payah mencapai daerah ini karena kesulitan transportasi. Sepuluh tahun lalu, bandara Komodo tidak beda seperti bandara perintis di pedalaman Kalimantan atau Papua yang hanya bisa dilandasi oleh pesawat-pesawat kecil berpenumpang maksimal 18 orang. Para wisatawan yang kesana biasanya 'backpackers'. Bagi mereka bukan kenyamanan yang terutama, tapi daya tarik sebuah destinasi wisata.
Kini Labuan Bajo dan destinasi wisata Komodo telah bermetamorfosis menjadi salah satu daya tarik wisata, tidak hanya Indonesia, tapi bahkan dunia. Bahkan, dunia internasional jauh lebih dulu mengenal dan menjadian Komodo sebagai salah satu tujuan wisata Indonesia dibanding wisatawan domestik.
Bila dulu di desa nelayan Labuan Bajo hanya bisa ditemukan bebeberapa guest house dan wisma kelas melati, kita sudah ada beberapa hotel bintang 3-4 seperti Hotel Jayakarta, Hotel Bintang dan beberapa lainnya. Bahkan beberapa konglomerat nasional tengah melirik dan berencana membangun beberapa hotel bintang lagi di Labuan Bajo dan pulau-pulau sekitarnya.
Hanya perlu diperhatikan adalah daya dukung kota nelayan itu dan pulau-pulau kecil di sekitar Komodo. Masyarakat lokal juga berharap pembangunan fasilitas hotel di kota nelayan maupun di pulau-pulau di sekitar Komodo harus memperhatikan daya dukung lingkungan dan tidak sampai merusak alam dan eko-system kawasan itu, terutama pulau Komodo yang menjadi habitat utama binatang purba, Komodo atau ora dalam bahasa lokal. Perlu juga memperhatikan aspirasi masyarakat lokal, jangan sampai acara Sail Komodo hanya menjadi ajang Sale Komodo.
Investasi yang datang dan ditanamkan di daerah itu harus mempertimbangkan aspek lingkungan, eko-system yang ada, karakter, tradisi dan budaya masyarakat lokal. Karena, hanya dengan budaya yang harmonis, seperti harmonisnya keberadaan binatang Komodo atau Ora dalam bahasa lokal dengan masyarakat yang ada di pulau Komodo, demikian juga setiap kegiatan ekonomi, terutama industri pariwisata di kawasan itu. (*)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar