Hasil dari
Pemilihan Legislatif 9 April 2014 sudah
mulai kelihatan. Berdasarkan hasil quick
count atau hitungan cepat berbagai lembaga, Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP), Partai Golkar dan Partai Gerindra menempati urutan satu
sampai tiga. Partai Demokrat yang menjadi pemenang Pemilihan Legislatif 2004
dan 2009, terlempar dari tiga besar dan hanya menduduki posisi ke-empat.

Berdasarkan hasil hitungan cepat, ada partai-partaiyang mencatat kenaikan dibanding Pemilu 2009 lalu, tapi ada partai yang menurun atau lebih rendah dari hasil Pemilu 2009. Ada partai yang mencatat kenaikan hasil suara, tapi di bawah target, seperti PDIP, tapi ada hasil di luar dugaan banyak pengamat seperti Partai Kebangkitan Bangsa, yang menempel ketat Partai Demokrat.
|
Partai
|
Quick Count Kompas
|
Cyrus-CSIS
|
|
PDIP
|
19.22
|
19.00%
|
|
Golkar
|
15.02
|
14.3
|
|
Gerindra
|
11.76
|
11.8
|
|
Partai Demokrat
|
9.43
|
9.6
|
|
PKB
|
9.13
|
9.2
|
|
PAN
|
7.51
|
7.5
|
|
PKS
|
6.98
|
6.9
|
|
PPP
|
6.68
|
6.7
|
|
Nasdem
|
6.71
|
6.9
|
|
Hanura
|
5.1
|
5.5
|
|
PBB
|
1.5
|
1.6
|
|
PKPI
|
0.95
|
1.1
|
|
Golput
|
26.63
|
|
Sumber (1):
Quick Count Kompas (per 10 April)
Suara masuk:
93%:
Suara sah:
65.62%
Suara tidak
sah 7.75%
Golput:
26.63%
Sumber (2):
Cyrus-CSIS; Sample: 98.2%
Bila hasil quick count terbukti pada hasil real coun
KPU nanti, tidak ada partai yang menang besar dan meyakinkan. Itu berarti peta ‘koalisi’
bakal sengit dan cair, tergantung hasil lobi-lobi elit partai-partai politik.
Pertanyaan yang muncul di publik saat ini adalah,
siapa yang menjadi Calon Presiden dan Wakil Presiden? Partai-partai yang
mendulang suara cukup besar (tiga besar) akan bekerjasama dengan partai mana dalam memajukan Calon Presiden dan
Wakil Presiden?
![]() |
| Salah satu foto yang beredar di media-media sosial |
PDIP hari mengatakan bahwa partai ini tidak akan
mengubah keputusannya mencapreskan Jokowi. Tinggal sekarang, partai itu akan
berkoalisasi/bekerjasama dengan partai apa dan siapa yang dipasangkan dengan
Jokowi sebagai Calon Wakil Presiden. Sejauh ini, suara-suara yang muncul di
publik adalah bahwa Jokowi bakal dipasangkan dengan Mahfud MD (mantan ketua Mahkamah
Konstitusi), Jusuf Kalla, Moeldoko (Panglima ABRI) atau Hatta Rajasa, Ketua
PAN. Sehari sebelum Pemilu Puan Maharani, ketua Badan Pemenangan Pemilihan Umum
(Bappilu PDIP) dan timnya bertemu dengan ketua PAN, sehingga muncul dugaan PDIP
akan berkoalisi dengan PAN.
Golkar tampaknya akan tetap mengajukan Aburizal
Bakrie (ARB) sebagai calon Presiden. Hasil Pileg yang dibawah target dan
catatan buruk ARB khususnya terkait Lapindo, telah menggoyangkan posisi ARB di
internal Golkar dan masih ada kemungkinan pencapresan ARB akan dievaluasi. Bila
melihat pernyataan Ical kemarin, terlihat ARB sangat percaya diri untuk maju
menjadi Capres Golkar. Bila memang, Golkar akan masuk kembali ke pemerintah,
tapi bila kalah, maka ini untuk ketiga kalinya Golkar hanya menempel dengan
partai penguasa, tidak menjadi pelaku utama.
Bagaimana dengan Gerindra? Hampir dipastikan Prabowo
akan menjadi Calon Presiden Gerindra. Siapa yang dipasangkan menjadi calon
wakil presiden, masih sangat spekulatif, tergantung hasil lobi/koalisi
partai-partai. Gerindra
Lalu bagaimana dengan Partai Demokrat? Dari hasil
hitungan cepat, tampaknya sangat sulit bagi Partai Demokrat untuk mengusung
Capres sendiri. Yang paling masuk akal, PD mengajukan Cawapres.
Dalam beberapa minggu kedepan, partai apa akan
berkoalisi dengan siapa, barulah akan kelihatan. Yang hampir pasti, kini kita
memiliki tiga Calon Presiden, Jokowi, Aburizal ‘Ical’ Bakrie dan Prabowo.
Prabowo dan Ical (ARB) adalah mantan politisi Golkar yang mewakili generasi
lama, artinya masih ada kaitan dengan Orba, dan Jokowi mewakili generasi baru.
Maka dengan demikian pertarungan di Pemilihan Presiden nanti (Pilpres) bakal
terjadi antara Generasi Lama/Tua dan Generasi Baru/Generasi Baru. (*)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar