Kamis, 27 Februari 2014

Lelang WK Migas Sepi Peminat, Bahaya Krisis Energi di Indonesia Nyata

Publik berharap pemerintah akan membuat keputusan dengan cermat, tepat dan hati-hati terkait perpanjangan kontrak blok Migas yang akan berakhir. Kepentingan bangsa diutamakan, bukan kepentingan partai, golongan atau desakan para poliTIKUS-poliTIKUS, yang cuma ingat perut sendiri.

***


Pemerintah Indonesia kemarin (Feb 26) mengumumkan hasil lelang reguler Wilayah Kerja Migas Tahap II tahun 2013. Hasil lelang sangat tidak memuaskan. Dari beberapa lelang yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, baik lelang reguler maupun penunjukan langsung, terlihat kecenderungan menurunnya minat investor migas untuk berinvestasi. Kondisi ini mengkhawatirkan dan harus menjadi pemicu bagi pemerintah dan seluruh stakeholders untuk mencari jalan keluar bagaimana caranya menarik investor untuk melakukan eksplorasi minyak dan gas bumi.

Saat ini cadangan minyak Indonesia hanya sekitar 3,7 miliar barel dan bila tidak ada penemuan baru, maka cadangan minyak tersebut bakal habis dalam 10-12 tahun mendatang. Setelah itu, Indonesia siap-siap mengimpor seluruh kebutuhan minyaknya. Tren yang sama untuk gas bumi. Cadangan gas bumi masih akan cukup untuk dua dekade mendatang, namun, tanpa eksplorasi atau pencarian cadangan baru maka, cadangan gas bumi terbukti pun bakal habis.

Seperti yang diumumkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemarin, terlihat jelas bahwa peminat lelang Wilayah Kerja Minyak dan gas Bumi (WK Migas) kian menyusut. Pada lelang reguler WK Migas tahap II tersebut, dari 7 wilayah kerja yang ditawarkan, hanya 1 investor yang berminat.

Demikian juga pada lelang penawaran langsung tahap I tahun 2013. Dari 16 wilayah kerja yang ditawarkan, hanya 5 investor yang berminat. Fakta yang sama juga terlihat pada lelang reguler WK Migas tahap I tahun 2012 dan lelang penawaran langsung WK migas non konvensional tahun 2012, dari 5 WK migas yang ditawarkan, hanya 1 yang diminati investor. 

Menurunnya minat investor migas asing terjadi saat kebutuhan minyak dan gas bumi Indonesia terus meningkat. Menurunnya minat investor migas terhadap lelang WK Migas terjadi saat produksi minyak turun. Tahun ini saja, pemerintah (ESDM) hanya menargetkan produksi/lifting minyak hanya 804.000 barel per hari, sudah separuh dari puncak produksi minyak tahun 1995 sebesar 1,6 juta barel. Target produksi tahun 2013, sudah jauh dibawah tahun-tahun sebelumnya yakni di atas 900.000 bpd. Artinya, sudah terjadi penurunan drastis. Sementara produksi minyak dari Cepu juga belum jadi-jadi dan tertunda terus.
Industri Migas Indonesia saat ini memang sedang menghadapi krisis hebat. Regulator atau lembaga yang memantau dan menjaga industri migas, SKK Migas, sedang dilanda krisis kepercayaan diri akibat kasus gratifikasi mantan kepala SKK Migas. Para pelaku industri migas atau Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) sedang menghadapi berbagai kesulitan. Yang dilakukan KKKS tidak lagi fokus bagaimana meningkatkan produksi, tapi lebih pada bagaimana menahan laju penurunan produksi migas. 

Tanpa investasi dan upaya keras, produksi akan turun hingga 12 persen setiap tahun. Yang dilakukan KKKS bersama SKK Migas adalah bagaimana menjaga agar penurunan alamiah dapat dijaga pada level tidak lebih dari 3 persen. Ini terjadi karena sebagian besar blok migas di Indonesia saat ini adalah blok-blok tua. Misalnya saja Blok Mahakam. Blok ini sudah berproduksi sekitar 40 tahun. Artinya sudah 80 persen cadangan migas terbukti sudah diproduksi. 

Mengingat kondisi blok yang kian uzur, konsekuensinya, operator (Total E&P Indonesie), yang bermitra dengan Inpex Corp (non-operator) harus bekerja ekstra keras untuk mengangkat gas bumi dan minyak dari perut bumi. Dibutuhkan investasi lebih dan teknologi yang lebih canggih lagi untuk mengangkat migas dari perut bumi, apalagi kondisi dan karakter blok sangat kompleks akibat reservoir yang kecil-kecil dan tersebar. Sehingga ratusan sumur harus dibor setiap tahun. 

Tugas pemerintah saat ini adalah bagaimana mempertahankan produksi dari lapangan-lapangan yang ada dan pada saat yang sama meningkatkan eksplorasi untuk meningkatkan cadangan  migas terbukti serta meningkatkan produksi dari lapangan yang ada. Tentu ini tidak mudah.

Dari hasil lelang yang semakin sepi di atas, kita sebagai warga negara, sebagai pelaku usaha atau sebagai pembuat kebijakan, tentu harus melakukan langkah terobosan untuk mengatasi masalah ancaman krisis energi yang kian nyata ini. Indonesia dihadapkan pada masalah turunnya produksi migas, turunnya minat investor untuk eksplorasi, kondisi lapangan migas yang sudah tua. Sementara pada satu sisi, permintaan migas terus meningkat dari tahun ke tahun. Akibatnya, Indonesia harus membelanjakan uang triliuanan rupiah setiap hari untuk mengimpor minyak.

Kita berharap para pembuat kebijakan, Kementerian ESDM, SKK Migas, DPR dan seluruh stakeholders menyadari persoalan ancaman krisis energi yang dihadapi Indonesia saat ini. Keluhan, kesulitan dan harapan para investor migas perlu diperhatikan dengan seksama. Misalnya, saat ini perusahaan-perusahaan migas mengkhawatirkan ketidakpastian investasi dan usaha, akibat ketidakpastian masa depan operasional blok-blok yang kontraknya bakal habis dalam beberapa tahun kedepan. 

Hingga saat ini, pemerintah masih menggantung nasib blok-blok migas yang akan habis kontraknya, seperti Blok Mahakam, dan blok-blok migas lainnya. Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo kemarin setelah mengunjungi KPK mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan aturan main terkait nasib blok migas yang kontraknya akan berakhir.

Kita berharap peraturan tersebut akan menjadi rujukan atau acuan bagi pemerintah dalam membuat keputusan sehingga ada tolok ukur dan parameter yang jelas dalam memutuskan apakah kontrak sebuah blok migas diperpanjang atau tidak atau dibuat skema baru.
 
Publik berharap peraturan tersebut segera keluar dan nasib blok-blok migas yang kontraknya akan berakhir tidak digantung terus. Jadi, ada kepastian. Kepastian penting mengingat investasi proyek migas, apakah itu eksplorasi atau produksi, membutuhkan timeframe yang lama. Investasi hari ini, baru akan kelihatan 10-15 tahun mendatang. Tentu kita juga berharap pemerintah akan membuat keputusan dengan cermat, tepat dan hati-hati terkait perpanjangan kontrak blok Migas yang akan berakhir. Kepentingan bangsa diutamakan, bukan kepentingan partai, golongan atau desakan para poliTIKUS-poliTIKUS, yang cuma ingat perut sendirk. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar