Senin, 10 Februari 2014

Indonesia Terletak di Kawasan Cincin Api, Tak Layak Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir



Reaktor Nuklir Fukushima Setelah Tsunami
Pemerintah Indonesia rupanya terjebak kampanye sesat untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Saat rakyat Indonesia disibukkan oleh isu korupsi, banjir, pembangunan infrastruktur yang mandek, pembabatan hutan, kemiskinan, kekurangan lapangan pekerjaan, debat politik yang tidak berisi serta gosip-gosip artis yang tidak berbobot, para promotor pembangkit listrik tenaga nuklir – BATAN dan BAPETEN - terus mempromosikan dan meyakinkan pemerintah untuk melanjutkan upaya pembangunan listrik tenaga nuklir. Sayangnya upaya tersebut dilakukan melalui upaya-upaya yang dapat digolongkan sebagai pembohongan publik.

Para promotor pengembangan PLTN telah merasa menang dan di atas angin karena payung hukum yang diperjuangkan selama belasan tahun kini sudah ada setelah DPR baru-baru ini menyetujui dimasukkannya rencana pembangunan PLTN dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN). Rupanya KEN hanya dijadikan tameng atau kamuflase untuk memuluskan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir. 

Reaktor Nuklir Fukushima Setelah Tsunami
Anggota DPR, yang juga jarang-jarang masuk mengikuti sidang-sidang di Parlemen, hampir tidak melakukan diskusi publik atau audiensi dengan masyarakat yang bakal terkena dampak oleh rencana pembangunan PLTN. Para promotor rupanya tahu persis kelemahan para anggota DPR, dengan lobi sana-sini, akhirnya DPR Komisi VII menyetujui Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) MENGKLAIM telah menyelesaikan studi kelayakan (feasibility study) di Pulau Bangka awal Desember 2013. Rupanya, kini pemerintah memilih Bangka Belitung sebagai alternatif pembangunan PLTN, setelah masyarakat Muria, Jepara di Jawa Tengah menolak pembangunan PLTN di daerah itu. Walaupun dengan segala upaya dilakukan termasuk mendekati tokoh-tokoh agama, rencana pembangunan PLTN tetap di tolak. 

Alasan pemerintah bahwa hanya sedikit masyarakat yang tinggal di Semenanjung Muria, gagal untuk meyakinkan masyarakat lokal. Berbagai LSM dan juga para ahli menolak PLTN dibangun di Semenanjung Muria, karena Jawa merupakan bagian dari kawasan yang dilalui oleh jalur gempa (Cincin Api).  Karena itu, pulau Jawa sangat rentan terhadap bencana, terutama gempa bumi. Kebocoran reaktor nuklir di Jepang akibat tsunami dan gempa bumi 3 tahun lalu, membuktikan secanggih-canggihnya reaktor nuklir (generasi ke-III) yang dibangun oleh Jepang, tetap saja bocor dan tak sanggup menghadapi gempuran gempa bumi dahsyat.

Anehnya, saat Jepang dan negara-negara lain mempertimbangkan kembali kehadiran PLTN dan sebagian membatalkan rencana pembangunan PLTN, Indonesia, yang notabene rawan bencana, dengan sombongnya melanjutkan rencana pembangunan PLTN. Para ahli di BATAN dan BAPETEN secara terus menerus melakukan kampanye sesat bahwa PLTN yang akan dibangun Indonesia tergolong aman dan bebas polisi. Pemerintah dan DPR pun akhirnya terkooptasi oleh kampanye sesat tersebut. Para ahli Batan dan BAPETEN mengklaim bahwa Indonesia akan membangun reaktor nuklir generasi ke-IV yang jauh lebih aman, merupakan klaim sepihak, karena generasi ke IV juga masih harus dibuktikan. Reaktor nuklir generasi ke-III yang dibangun di Jepang diklaim yang paling aman, tapi juga akhirnya gagal dan terbukti tidak aman. 

Banyak kebohongan yang diberitakan di media baik yang terkait isu safety, materi yang digunakan maupun isu keamanan energi. Salah satu kebohongan yang dicatat publik adalah bahwa BATAN bakal menggunakan thorium yang dapat menggantikan uranium. Dan Bangka memiliki banyak sumber daya thorium. Namun, BATAN kemudian meralatnya.

Kebohongan berikutnya, adalah bahwa membangun PLTN murah. Tunggu dulu. Bila PLTN dibangun di Bangka Belitung, maka akan dibutuhkan investasi lebih dari US$ 2 miliar untuk membangun kabel bawah laut. Investasi bisa besar. Belum lagi soal keamanan reaktor nuklir bila terjadi gempa bumi. Bangka Belitung bukan daerah yang bebas dari ancaman gempa bumi.

Kebohongan lain adalah bahwa pernyataan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta bahwa pemerintah, melalui BATAN, akan membangun PLTN dengan kapasitas 30 MW di Serpong, Tangerang dalam waktu dekat. Tidak dijelaskan bahwa apakah PLTN tersebut untuk keperluan riset atau untuk dikomersilkan. Bila rencana tersebut dilakukan, akan menimbulkan kerawanan bagi kawasan perumahan-perumahan di Bumi Serpong Damai (BSD), Serpong dan sekitarnya. Jutaan warga Serpong dan BSD serta Tangerang berisiko terpapar bila terjadi kebocoran reaktor nuklir. Publik tidak tahu apakah rencana tersebut sudah disosialisasikan dengan warga sekitar atau belum.

Kebohongan atau kesesatan lain yang dikampanyekan para promotor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah bahwa energi nuklir merupakan solusi bagi keamanan energi (energy security) bagi Indonesia. Para promotor PLTN mengklaim bahwa suatu saat sumber daya fossil (minyak dan gas bumi) akan habis, maka perlu energi baru yaitu energi nuklir, merupakan kebohongan publik. Energi fossil memang suatu saat akan habis, tapi Indonesia masih memiliki energi terbarukan, yaitu panas bumi (geothermal), solar power, hydropower dan biofuel. 

Indonesia punya potensi panas bumi sebesar 27.000 MW (27 GW) yang bisa dikembangkan. Saat ini baru 1,300 MW energi panas bumi yang dikembangkan. Mengapa pemerintah memindahkan saja tenaga ahli nuklir di BATAN dan BAPETEn dan perguruan tinggi untuk fokus mengembangkan panas bumi dan energi terbarukan, ketimbang mengeluarkan triliuan rupiah untuk membangun PLTN yang notabene tidak cocok untuk Indonesia? 

Apakah PLTN menjadi salah satu solusi untuk membuat Indonesia memiliki ketahanan energi? Jawabannya, jelas. Tidak. PLTN bagi Indonesia dengan teknologi nuklir yang ada (Generasi ke-IV) yang diklaim paling aman pun, dapat menjadi sumber malapetaka bagi Indonesia.

Bangka Belitung yang direncanakan sebagai tempat pembangunan PLTN skala besar hingga 10.000 MW, juga bukan daerah yang bebas gempa bumi. Beberapa tahun lalu Bangka Belitung mencatat terjadinya gempa dengan kekuatan 4,5 skala Richter, dan persis dekat dengan rencana tempat pembangunan PLTN. 

Kita memang tak meragukan keahlian tenaga-tenaga ahli nuklir di BATAN atau BAPETEN atau di beberapa perguruan tinggi. Beberapa ahli nuklir kita bahkan bekerja di lembaga-lembaga nuklir dunia. Tenaga ahlik nuklir Indonesia pun dikirim ke Jepang untuk membantu Jepang menangani dampak lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir di Fukushima beberapa waktu lalu. Tapi klaim bahwa kita punya ahli yang mumpuni untuk mengembangkan PLTN, tidak bisa dijadikan justifikasi untuk mengembangkan PLTN. Fakta sederhana, Indonesia adalah negara rawan bencana karena berada di kawasan Cincin Api atau Ring of Fire, maka Indonesia sangat rawan terjadi bencana. (*)

3 komentar:

  1. Belum saatnya Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Alasannya, pertama, PLTN tdk cocok dibangun di Indonesia krn letak Indonesia di daerah ring of fire, sehingga sangat2 riskan. kedua, Indonesia msh memiliki energi baru dan terbarukan spt panas bumi, hydropower, solar, etc...yg terbukti ramah lingkungan dan resourcesnya banyak. Ketiga, kebocoran2 yg terjadi di Chernobyl, Fukushima Jepang harus jadi pelajaran berharga bagi Indonesia akibat risiko adanya PLTN. keempat, membangun PLTN, kata pemerintah murah, tp kalau dibangun di Bangka-Belitung, jatuhnya juga tetap mahal krn harus bangun kabel bawah laut yg panjang. Lebih baik ahli2 nuklir Indonesia diarahkan utk bangun energi yg terbarukan spt panasbumi, etc.

    BalasHapus
  2. Saya setuju, PLTN tidak/belum cocok dibangun di Indonesia. Pemerintah harus melakukan debat publik sebelum mengembangkan PLTN. Masyarakat/publik harus didengar pendapatnya, jangan diam2 saja. Pemerintah mengklaim mayoritas masyarakat menyetujui pengembangan PLTN. Masyarakat yg mana? Membangun PLTN bukan untuk nyombongkan diri, bahwa Indonesia juga bisa. Bukankah lebih baik fokus kembangkan energi terbarukan yg ada spt solar power, geothermal, hydropower, dll?

    BalasHapus
  3. Kalau sy tak salah masih ada banyak cekungan yg belum dieksplorasi di Indonesia. Sy bukan ahli dan memahami isu nuklir, tp spt masyarakat umum lainnya, nuklir membuat bulu kuduk berdiri. Dampak nuklir sangat mengerikan, dan tdk bisa bayangkan itu bisa saja terjadi di Indonesia. Lebih baik pemerintah dorong investasi di sektor migas agar perusahaan/investor tingkatkan invesasi eksplorasi. Pemerintah kan juga bisa kembangkan energi terbarukan, yg msh belum berkembang spt panas bumi, solar power, dll.

    BalasHapus