![]() |
| Reaktor Nuklir Fukushima Setelah Tsunami |
Pemerintah Indonesia rupanya
terjebak kampanye sesat untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir
(PLTN). Saat rakyat Indonesia disibukkan oleh isu korupsi, banjir, pembangunan
infrastruktur yang mandek, pembabatan hutan, kemiskinan, kekurangan lapangan
pekerjaan, debat politik yang tidak berisi serta gosip-gosip artis yang tidak
berbobot, para promotor pembangkit listrik tenaga nuklir – BATAN dan BAPETEN - terus
mempromosikan dan meyakinkan pemerintah untuk melanjutkan upaya pembangunan
listrik tenaga nuklir. Sayangnya upaya tersebut dilakukan melalui upaya-upaya
yang dapat digolongkan sebagai pembohongan publik.
Para promotor pengembangan PLTN
telah merasa menang dan di atas angin karena payung hukum yang diperjuangkan
selama belasan tahun kini sudah ada setelah DPR baru-baru ini menyetujui
dimasukkannya rencana pembangunan PLTN dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Rupanya KEN hanya dijadikan tameng atau kamuflase untuk memuluskan
pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir.
![]() |
| Reaktor Nuklir Fukushima Setelah Tsunami |
Anggota DPR, yang juga
jarang-jarang masuk mengikuti sidang-sidang di Parlemen, hampir tidak melakukan
diskusi publik atau audiensi dengan masyarakat yang bakal terkena dampak oleh
rencana pembangunan PLTN. Para promotor rupanya tahu persis kelemahan para
anggota DPR, dengan lobi sana-sini, akhirnya DPR Komisi VII menyetujui
Kebijakan Energi Nasional (KEN).
Badan Tenaga Atom Nasional
(BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) MENGKLAIM telah
menyelesaikan studi kelayakan (feasibility study) di Pulau Bangka awal Desember
2013. Rupanya, kini pemerintah memilih Bangka Belitung sebagai alternatif
pembangunan PLTN, setelah masyarakat Muria, Jepara di Jawa Tengah menolak
pembangunan PLTN di daerah itu. Walaupun dengan segala upaya dilakukan termasuk
mendekati tokoh-tokoh agama, rencana pembangunan PLTN tetap di tolak.
Alasan pemerintah bahwa hanya
sedikit masyarakat yang tinggal di Semenanjung Muria, gagal untuk meyakinkan
masyarakat lokal. Berbagai LSM dan juga para ahli menolak PLTN dibangun di
Semenanjung Muria, karena Jawa merupakan bagian dari kawasan yang dilalui oleh
jalur gempa (Cincin Api). Karena itu,
pulau Jawa sangat rentan terhadap bencana, terutama gempa bumi. Kebocoran
reaktor nuklir di Jepang akibat tsunami dan gempa bumi 3 tahun lalu,
membuktikan secanggih-canggihnya reaktor nuklir (generasi ke-III) yang dibangun
oleh Jepang, tetap saja bocor dan tak sanggup menghadapi gempuran gempa bumi
dahsyat.
Anehnya, saat Jepang dan
negara-negara lain mempertimbangkan kembali kehadiran PLTN dan sebagian
membatalkan rencana pembangunan PLTN, Indonesia, yang notabene rawan bencana,
dengan sombongnya melanjutkan rencana pembangunan PLTN. Para ahli di BATAN dan
BAPETEN secara terus menerus melakukan kampanye sesat bahwa PLTN yang akan
dibangun Indonesia tergolong aman dan bebas polisi. Pemerintah dan DPR pun
akhirnya terkooptasi oleh kampanye sesat tersebut. Para ahli Batan dan BAPETEN
mengklaim bahwa Indonesia akan membangun reaktor nuklir generasi ke-IV yang
jauh lebih aman, merupakan klaim sepihak, karena generasi ke IV juga masih
harus dibuktikan. Reaktor nuklir generasi ke-III yang dibangun di Jepang
diklaim yang paling aman, tapi juga akhirnya gagal dan terbukti tidak aman.
Banyak kebohongan yang
diberitakan di media baik yang terkait isu safety, materi yang digunakan maupun
isu keamanan energi. Salah satu kebohongan yang dicatat publik adalah bahwa
BATAN bakal menggunakan thorium yang dapat menggantikan uranium. Dan Bangka
memiliki banyak sumber daya thorium. Namun, BATAN kemudian meralatnya.
Kebohongan berikutnya, adalah
bahwa membangun PLTN murah. Tunggu dulu. Bila PLTN dibangun di Bangka Belitung,
maka akan dibutuhkan investasi lebih dari US$ 2 miliar untuk membangun kabel
bawah laut. Investasi bisa besar. Belum lagi soal keamanan reaktor nuklir bila
terjadi gempa bumi. Bangka Belitung bukan daerah yang bebas dari ancaman gempa
bumi.
Kebohongan lain adalah bahwa
pernyataan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta bahwa
pemerintah, melalui BATAN, akan membangun PLTN dengan kapasitas 30 MW di
Serpong, Tangerang dalam waktu dekat. Tidak dijelaskan bahwa apakah PLTN
tersebut untuk keperluan riset atau untuk dikomersilkan. Bila rencana tersebut
dilakukan, akan menimbulkan kerawanan bagi kawasan perumahan-perumahan di Bumi
Serpong Damai (BSD), Serpong dan sekitarnya. Jutaan warga Serpong dan BSD serta
Tangerang berisiko terpapar bila terjadi kebocoran reaktor nuklir. Publik tidak
tahu apakah rencana tersebut sudah disosialisasikan dengan warga sekitar atau
belum.
Kebohongan atau kesesatan lain yang dikampanyekan para promotor Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir adalah bahwa energi nuklir merupakan solusi bagi keamanan energi (energy security) bagi Indonesia. Para promotor PLTN mengklaim bahwa suatu saat sumber daya fossil (minyak dan gas bumi) akan habis, maka perlu energi baru yaitu energi nuklir, merupakan kebohongan publik. Energi fossil memang suatu saat akan habis, tapi Indonesia masih memiliki energi terbarukan, yaitu panas bumi (geothermal), solar power, hydropower dan biofuel.
Indonesia punya potensi panas bumi sebesar 27.000 MW (27 GW) yang bisa dikembangkan. Saat ini baru 1,300 MW energi panas bumi yang dikembangkan. Mengapa pemerintah memindahkan saja tenaga ahli nuklir di BATAN dan BAPETEn dan perguruan tinggi untuk fokus mengembangkan panas bumi dan energi terbarukan, ketimbang mengeluarkan triliuan rupiah untuk membangun PLTN yang notabene tidak cocok untuk Indonesia?
Apakah PLTN menjadi salah satu solusi untuk membuat Indonesia memiliki ketahanan energi? Jawabannya, jelas. Tidak. PLTN bagi Indonesia dengan teknologi nuklir yang ada (Generasi ke-IV) yang diklaim paling aman pun, dapat menjadi sumber malapetaka bagi Indonesia.
Apakah PLTN menjadi salah satu solusi untuk membuat Indonesia memiliki ketahanan energi? Jawabannya, jelas. Tidak. PLTN bagi Indonesia dengan teknologi nuklir yang ada (Generasi ke-IV) yang diklaim paling aman pun, dapat menjadi sumber malapetaka bagi Indonesia.
Bangka Belitung yang
direncanakan sebagai tempat pembangunan PLTN skala besar hingga 10.000 MW, juga
bukan daerah yang bebas gempa bumi. Beberapa tahun lalu Bangka Belitung
mencatat terjadinya gempa dengan kekuatan 4,5 skala Richter, dan persis dekat
dengan rencana tempat pembangunan PLTN.
Kita memang tak meragukan
keahlian tenaga-tenaga ahli nuklir di BATAN atau BAPETEN atau di beberapa
perguruan tinggi. Beberapa ahli nuklir kita bahkan bekerja di lembaga-lembaga
nuklir dunia. Tenaga ahlik nuklir Indonesia pun dikirim ke Jepang untuk
membantu Jepang menangani dampak lingkungan akibat kebocoran reaktor nuklir di
Fukushima beberapa waktu lalu. Tapi klaim bahwa kita punya ahli yang mumpuni
untuk mengembangkan PLTN, tidak bisa dijadikan justifikasi untuk mengembangkan
PLTN. Fakta sederhana, Indonesia adalah negara rawan bencana karena berada di
kawasan Cincin Api atau Ring of Fire, maka Indonesia sangat rawan terjadi
bencana. (*)


Belum saatnya Indonesia mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Alasannya, pertama, PLTN tdk cocok dibangun di Indonesia krn letak Indonesia di daerah ring of fire, sehingga sangat2 riskan. kedua, Indonesia msh memiliki energi baru dan terbarukan spt panas bumi, hydropower, solar, etc...yg terbukti ramah lingkungan dan resourcesnya banyak. Ketiga, kebocoran2 yg terjadi di Chernobyl, Fukushima Jepang harus jadi pelajaran berharga bagi Indonesia akibat risiko adanya PLTN. keempat, membangun PLTN, kata pemerintah murah, tp kalau dibangun di Bangka-Belitung, jatuhnya juga tetap mahal krn harus bangun kabel bawah laut yg panjang. Lebih baik ahli2 nuklir Indonesia diarahkan utk bangun energi yg terbarukan spt panasbumi, etc.
BalasHapusSaya setuju, PLTN tidak/belum cocok dibangun di Indonesia. Pemerintah harus melakukan debat publik sebelum mengembangkan PLTN. Masyarakat/publik harus didengar pendapatnya, jangan diam2 saja. Pemerintah mengklaim mayoritas masyarakat menyetujui pengembangan PLTN. Masyarakat yg mana? Membangun PLTN bukan untuk nyombongkan diri, bahwa Indonesia juga bisa. Bukankah lebih baik fokus kembangkan energi terbarukan yg ada spt solar power, geothermal, hydropower, dll?
BalasHapusKalau sy tak salah masih ada banyak cekungan yg belum dieksplorasi di Indonesia. Sy bukan ahli dan memahami isu nuklir, tp spt masyarakat umum lainnya, nuklir membuat bulu kuduk berdiri. Dampak nuklir sangat mengerikan, dan tdk bisa bayangkan itu bisa saja terjadi di Indonesia. Lebih baik pemerintah dorong investasi di sektor migas agar perusahaan/investor tingkatkan invesasi eksplorasi. Pemerintah kan juga bisa kembangkan energi terbarukan, yg msh belum berkembang spt panas bumi, solar power, dll.
BalasHapus