Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) telah menargetkan
pertumbuhan ekonomi agar bisa mencapai 7% dalam masa kepemimpinannya. Target
tersebut memang bagus, namun dinilai bahwa angan-angan tersebut akan sulit
terwujud.
Agustinus Prasetyantoko, pengamat ekonomi dari Universitas
Atma Jaya Jakarta, memperkirakan bahwa masalah besar yang akan dihadapi
pemerintahan Jokowi adalah terkait defisit transaksi berjalan (current account
deficit). Pada kuartal II 2014, defisit transaksi berjalan Indonesia sudah
mencapai US$ 9,1 miliar atau 4,27% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Current account deficit kita besar. Sehebat apapun
presiden baru nanti, kabinet dream team, parlemen mendukung, itu nggak mudah
dalam hitungan 1-2 tahun menyelesaikan current account defisit,"
terangnya.
Ketika transaksi berjalan defisit, artinya arus dana yang
keluar itu lebih besar daripada yang diterima. Hal tersebut mengakibatkan nilai
tukar rupiah menjadi fluktuatif. Ini tentu akan menyulitkan pelaku usaha untuk
menentukan investasi mereka.
Ketika pelaku usaha ragu-ragu untuk berinvestasi, ekonomi
tidak bisa bergerak cepat. Ini yang bisa menyebabkan defisit transaksi berjalan
akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
![]() |
| Jokowi |
Selain defisit transaksi berjalan, faktor politik juga bisa
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. "Apalagi dengan parlemen yang
galak, 2015 kita belum bisa ekspansi. Bahkan 2016 tumbuh 6% itu menurut saya
berlebihan," ucapnya.
Apalagi pemerintahan Jokowi sudah berencana untuk menaikkan
harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Ketika harga BBM naik, dampaknya sudah
bisa dipastikan akan menyebabkan inflasi dan bisa menghambat pertumbuhan
ekonomi.
"Dengan skenario yang ada sekarang, yaitu menaikkan BBM
sampai Rp 3.000 pada November, inflasi akan naik sampai 8-9%. Saya mengandaikan
maksimum pertumbuhan 5,5%," pungkasnya.
Namun apabila berbagai tantangan tersebut bisa diatasi,
Prasetyantoko yakin mencapai pertumbuhan ekonomi 7% tersebut bisa tercapai.
Hanya mungkin saja itu bisa terjadi baru pada masa-masa akhir kepemimpinan
Jokowi.
"Kalau kita tujuannya mengekspansi ekonomi, mendorong
investasi, harapannya terlalu besar kalau diletakkan 2 tahun ke depan.
Katakanlah mulai ekspansi 2017, kita tumbuh bisa 6%. Di akhir pemerintahan
nanti bisa saja tumbuh hingga 7%. Itu pun kalau prasyarat reformasi ekonomi
dijalankan dengan baik," pungkas Prasentyatoko.
Sebenarnya bagus saja sih angan-angan Jokowi untuk bertarget
tinggi. Tapi alangkah bagus lagi apabila target yang ingin dicapai tersebut
realistis hingga bisa diwujudkan dan tidak semata menjual angan-angan belaka
kepada rakyat. Yah semoga saja hal ini diberikan perhatian khusus sehingga bisa
tidak menghambat investasi ke Indonesia. Kalau ada kesempatan luar negeri ingin
inventasi hendaknya dipermudah supaya target bisa cepat diwujudkan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar