Kamis, 07 Agustus 2014

Otoritas Jasa Keuangan Indonesia Kebanjiran Laporan Penipuan

OJK
Belakangan ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kebanjiran laporan dari masyarakat. Direktur Direktorat Pengembangan Kebijakan Perlindungan Konsumen OJK, Anto Prabowo mengakui bahwa total layanan pengaduan, permintaan informasi, dan pertanyaan berjumlah sebanyak 11.851 laporan hingga Agustus 2014 ini. "Pengaduan ada sebanyak 1.446, informasi 1.455 laporan, dan pertanyaan 8.950 laporan. Pengaduan di sektor perbankan 964 dan 420 laporan," tandasnya.

Pengaduan terbanyak di sektor industri keuangan non bank adalah perusahaan asuransi dan perusahaan pembiayaan. Pengaduan yang diterima OJK kebanyakan seperti misalnya pembayaran polis dan ketidakjelasan klaim. Sementara laporan mengenai kebutuhan informasi biasanya berupa pertanyaan mengenai investasi yang bukan wewenang OJK.

"Misalnya investasi bodong. Apakah produk investasi dari perusahaan ini diawasi OJK atau nggak. Karena nggak semua di bawah pengawasan OJK. Untuk menyelesaikan pengaduan kan banyak prosesnya, mulai dari verifikasi, komunikasi dengan pelakunya sampai melengkapi data-data. Tapi kita pasti akan menyelesaikan semuanya, namun sedang dalam proses," pungkasnya.

Untuk itu, Anto menyarankan supaya konsumen mulai ngeh dengan kontrak atau perjanjian investasi, seperti polis asuransi. "Jadi harus dibaca polisnya, kebanyakan kan nggak. Ini juga supaya kita tahu biaya risikonya," tambahnya.

Menurut Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S Setiono pula, "Banyak yang menyebabkan masyarakat mengalami kerugian, karena ada produk investasi yang enggak punya izin, tapi melakukan pengelolaan investasi dengan janji yang menggiurkan. Kalau mau beli akan untung dalam waktu singkat. Untuk yakinkan masyarakat, seringkali mereka manfaatkan publik figur supaya  beli. Tidak cuma itu, biasa juga mempresentasikan contoh-contoh nasabah menikmati keuntungan dari produknya. Modus ini disering kali tawaran investasi bodong, Alur masuk kita bisa mengetahui, tidak sedikit korban investasi mempunyai tingkat literasi dan pendidikan cukup tinggi, untuk itu kami ajak lebih waspada. Karena praktik-praktiek ini juga terjadi di lingkungan saudara dan kerabat terdekat, jadi tidak terasa jadi korban, seharusnya produk investasi itu jadi keuntungan, bukan jadi momok,” jelasnya panjang lebar.


Ternyata modus penipuan semakin menjadi-jadi. Kalau dulu banyak orang ditipu oleh dukun yang bisa melipatgandakan uang, di jaman modern sekarang ini penipuan yang pada dasarnya sama itu dibungkus dengan lebih canggih dan rumit. Maka untuk itu kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan agar tidak tertipu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar