![]() |
| OJK |
Belakangan ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kebanjiran
laporan dari masyarakat. Direktur Direktorat Pengembangan Kebijakan Perlindungan
Konsumen OJK, Anto Prabowo mengakui bahwa total layanan pengaduan, permintaan
informasi, dan pertanyaan berjumlah sebanyak 11.851 laporan hingga Agustus 2014
ini. "Pengaduan ada sebanyak 1.446, informasi 1.455 laporan, dan
pertanyaan 8.950 laporan. Pengaduan di sektor perbankan 964 dan 420
laporan," tandasnya.
Pengaduan terbanyak di sektor industri keuangan non bank adalah
perusahaan asuransi dan perusahaan pembiayaan. Pengaduan yang diterima OJK kebanyakan
seperti misalnya pembayaran polis dan ketidakjelasan klaim. Sementara laporan
mengenai kebutuhan informasi biasanya berupa pertanyaan mengenai investasi yang
bukan wewenang OJK.
"Misalnya investasi bodong. Apakah produk investasi
dari perusahaan ini diawasi OJK atau nggak. Karena nggak semua di bawah
pengawasan OJK. Untuk menyelesaikan pengaduan kan banyak prosesnya, mulai dari
verifikasi, komunikasi dengan pelakunya sampai melengkapi data-data. Tapi kita
pasti akan menyelesaikan semuanya, namun sedang dalam proses," pungkasnya.
Untuk itu, Anto menyarankan supaya konsumen mulai ngeh
dengan kontrak atau perjanjian investasi, seperti polis asuransi. "Jadi
harus dibaca polisnya, kebanyakan kan nggak. Ini juga supaya kita tahu biaya
risikonya," tambahnya.
Menurut Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan
Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S Setiono pula, "Banyak yang
menyebabkan masyarakat mengalami kerugian, karena ada produk investasi yang
enggak punya izin, tapi melakukan pengelolaan investasi dengan janji yang
menggiurkan. Kalau mau beli akan untung dalam waktu singkat. Untuk yakinkan
masyarakat, seringkali mereka manfaatkan publik figur supaya beli. Tidak cuma itu, biasa juga
mempresentasikan contoh-contoh nasabah menikmati keuntungan dari produknya.
Modus ini disering kali tawaran investasi bodong, Alur masuk kita bisa
mengetahui, tidak sedikit korban investasi mempunyai tingkat literasi dan
pendidikan cukup tinggi, untuk itu kami ajak lebih waspada. Karena
praktik-praktiek ini juga terjadi di lingkungan saudara dan kerabat terdekat, jadi
tidak terasa jadi korban, seharusnya produk investasi itu jadi keuntungan,
bukan jadi momok,” jelasnya panjang lebar.
Ternyata modus penipuan semakin menjadi-jadi. Kalau dulu
banyak orang ditipu oleh dukun yang bisa melipatgandakan uang, di jaman modern
sekarang ini penipuan yang pada dasarnya sama itu dibungkus dengan lebih
canggih dan rumit. Maka untuk itu kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan agar
tidak tertipu!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar