Senin, 23 Februari 2015

Target Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen, Pemerintah Harus Realistis

Jusuf Kalla
Meskipun keadaan politik saat ini sedang carut marut, namun Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bisa tetap optimis terhadap perekonomian Indonesia tahun ini. JK yang baru saja bertemu dengan Gabungan Pengusaha Konstruksi Indonesia (Gapeksindo) mengatakan bahw negara yang maju membutuhkan kontraktor yang baik dan besar.

Menurut JK, negara membutuhkan kontraktor untuk pembangunan infrastruktur sejak dulu hingga saat ini. Namun, dalam pekerjaan ini dibutuhkan kontraktor yang taat pada aturan yang berlaku. Tapi di mana pun terjadi, apalagi dengan upaya untuk bekerja secara profesional sesuai aturan yang ada harus dikerjakan yang baik.

Namun sebagai kontraktor tentu mempunyai dua kemungkinan mendapatkan pekerjaan, yaitu proyek pemerintah dan proyek dunia usaha sendiri.

Lebih jauh lagi, dalam implementasinya ada hukum yang berlaku bahwa suatu pembangunan bila ingin maju satu persen, dibutuhkan pembangunan 5 persen.

Kalau sekarang Produk Domestik Bruto (PDB) Rp10 ribu triliun maka bila 1 persen adalah Rp100 triliun, maka butuh lima kali. Kalau ingin pertumbuhan ekonomi kita 7 persen, maka butuh pembangunan Rp1.000 triliun. Untuk bangun itu, bukan APBN-nya, tapi angka pembangunan.

Cita-cita baik tersebut memang patut didukung. Namun harus tetap realistis. Misalkan saja, kita harus memanfaatkan semaksimal mungkin potensi-potensi investasi yang ada. Jangan karena alasan-alasan yang tidak jelas kemudian menolak investasi.

Kita ambil contoh Blok Mahakam. Total E&P sudah menyatakan bahwa mereka bersedia untuk berinvestasi hingga triliunan rupiah, namun tawaran tersebut belum diterima juga oleh pemerintah.


Alasan penolakan tersebut juga tidak jelas, kebanyakan hanya karena sentimen nasionalisme. Ada baiknya pemerintah betul-betul realistis hingga pertumbuhan ekonomi hingga 7% tersebut bisa dicapai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar