![]() |
| Jusuf Kalla |
Meskipun keadaan politik saat ini sedang carut marut, namun
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) bisa tetap optimis terhadap perekonomian
Indonesia tahun ini. JK yang baru saja bertemu dengan Gabungan Pengusaha
Konstruksi Indonesia (Gapeksindo) mengatakan bahw negara yang maju membutuhkan
kontraktor yang baik dan besar.
Menurut JK, negara membutuhkan kontraktor untuk pembangunan
infrastruktur sejak dulu hingga saat ini. Namun, dalam pekerjaan ini dibutuhkan
kontraktor yang taat pada aturan yang berlaku. Tapi di mana pun terjadi,
apalagi dengan upaya untuk bekerja secara profesional sesuai aturan yang ada
harus dikerjakan yang baik.
Namun sebagai kontraktor tentu mempunyai dua kemungkinan
mendapatkan pekerjaan, yaitu proyek pemerintah dan proyek dunia usaha sendiri.
Lebih jauh lagi, dalam implementasinya ada hukum yang
berlaku bahwa suatu pembangunan bila ingin maju satu persen, dibutuhkan
pembangunan 5 persen.
Kalau sekarang Produk Domestik Bruto (PDB) Rp10 ribu triliun
maka bila 1 persen adalah Rp100 triliun, maka butuh lima kali. Kalau ingin
pertumbuhan ekonomi kita 7 persen, maka butuh pembangunan Rp1.000 triliun.
Untuk bangun itu, bukan APBN-nya, tapi angka pembangunan.
Cita-cita baik tersebut memang patut didukung. Namun harus
tetap realistis. Misalkan saja, kita harus memanfaatkan semaksimal mungkin
potensi-potensi investasi yang ada. Jangan karena alasan-alasan yang tidak
jelas kemudian menolak investasi.
Kita ambil contoh Blok Mahakam. Total E&P sudah
menyatakan bahwa mereka bersedia untuk berinvestasi hingga triliunan rupiah,
namun tawaran tersebut belum diterima juga oleh pemerintah.
Alasan penolakan tersebut juga tidak jelas, kebanyakan hanya
karena sentimen nasionalisme. Ada baiknya pemerintah betul-betul realistis
hingga pertumbuhan ekonomi hingga 7% tersebut bisa dicapai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar