![]() |
| Total E&P |
Dunia dikejutkan oleh para raksasa minyak dunia yang
beramai-ramai mengumumkan pemotongan atau pemangkasan pada rencana investasi
mereka. British Petroleum (BP), raksasa minyak asal Inggris, memangkas rencana
investasi mereka karena harga minyak yang saat ini masih rendah yaitu di level
US$ 50/barel.
BP mengumumkan rencana mereka untuk memotong belanja modal
sekitar 20% dan akan menunda sejumlah investasi. Harga minyak yang turun sampai
50% dalam setengah tahun terakhir begitu memukul kinerja keuangan BP.
BP akan mengurangi anggaran eksplorasi dan produksi sampai
US$ 20 miliar (Rp 240 triliun) pada 2015. Turun dari rencana sebelumnya yaitu
US$ 26 miliar (Rp 312 triliun).
BP juga mengalami kerugian karena memiliki saham 20% di
perusahaan minyak Rusia, Rosneft. Pasalnya, Rusia tengah dihantam sanksi oleh
negara-negara barat.
Selain BP, Raksasa minyak asal Tiongkok, CNOOC, juga sudah
mengumumkan rencana mereka untuk memangkas anggaran 35% tahun ini. Perusahaan
minyak asal Rusia, Gazprom, juga akan mengurangi belanja sebesar US$ 8 miliar
(Rp 96 triliun).
Sedangkan minggu lalu Royal Dutch Shell mengumumkan akan
mengurangi invesatasi sebesar US$ 15 miliar (Rp 180 triliun) dalam 3 tahun ke
depan. Chevron, perusahaan minyak asal Amerika Serikat (AS), juga akan memotong
belanja sebesar 13%.
Di kala sepinya investasi seperti ini, seharusnya Indonesia
bersyukur bahwa Total E&P masih tetap pada rencana mereka untuk
berinvestasi hingga triliunan rupiah di Blok Mahakam.
Apalagi, krisis energi sudah di depan mata. Apabila
Indonesia masih bersikeras untuk membiarkan Pertamina sendiri yang
mengoperasikan Blok Mahakam, bisa-bisa produksi minyak anjlok dan makin
berimbas pada krisis energi di Indonesia.
Sepertinya juga Pertamina yang bekerjasama dengan Total
E&P adalah win-win solution terbaik. Total E&P selain bisa menyediakan
dana yang dibutuhkan oleh Pertamina, juga akan bisa transfer teknologi dan
skill.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar