![]() |
| Para Pekerja Migas Lepas Pantai |
Bila Anda
seorang pekerja profesional, memiliki keahlian di bidang atau industri tertentu, minyak dan gas bumi (migas) misalnya, maka
suatu saat Anda mungkin menerima telepon dari orang yang menawari Anda sebuah peluang pekerjaan baru. Bisa jadi,
tawaran tidak hanya datang dari satu perusahaan
tapi juga dari perusahaan lain melalui perusahaan pencari pekerja atau lebih
populer disebut headhunter. Kecenderungan ini, tampaknya akan berlanjut pada tahun 2014 ini.
Demikian intisari sebuah laporan tentang pasar rekrutmen di Indonesia yang diterbitkan oleh sebuah
lembaga konsultasi.
Mengapa
para pekerja profesional ‘diburu’ oleh perusahaan-perusahaan pencari kerja
(recruitment)? Menurut laporan berjudul ‘Recruitment Market Report, Indoensia
2014,’ yang diterbitkan oleh Monroe Consulting Group Indonesia, kian besarnya
kompetisi antar perusahaan untuk mendapatkan tenaga kerja profesional dan kurang tenaga profesional yang tersedia, membuat para pekerja profesional diburu.
Bila kita bertanya kepada para eksekutif di perusahaan minyak dan gas bumi, misalnya, kita akan menemukan jawaban bahwa memang jumlah pekerja profesional, pekerja yang memiliki keahlian tertentu di industri migas terbatas, semakin sulit didapatkan. Karena itu, penyedia lapangan kerja (employers) menawarkan kompensasi yang menarik dengan paket remunerasi yang menggiurkan.
Bila kita bertanya kepada para eksekutif di perusahaan minyak dan gas bumi, misalnya, kita akan menemukan jawaban bahwa memang jumlah pekerja profesional, pekerja yang memiliki keahlian tertentu di industri migas terbatas, semakin sulit didapatkan. Karena itu, penyedia lapangan kerja (employers) menawarkan kompensasi yang menarik dengan paket remunerasi yang menggiurkan.
Menurut ‘Recruitment Market Report, Indonesia, 2014,’
yang diterbitkan oleh Monroe Consulting Group Indonesia (9 Januari, 2014), 93
persen dari pekerja profesional yang memiliki keahlian menerima telepon dari
perusahaan pemburu tenaga kerja (headhunting)
dalam waktu 6 bulan pada 2013.
Laporan
tersebut juga menemukan bahwa 67 persen dari responden mengatakan bahwa mereka mencari
lowongan kerja dan menemukan pekerjaan di tempat yang sekarang, termasuk 25
persen yang ditempatkan oleh perusahaan-perusahaan rekrutmen. Survei ini juga
memperlihatkan bahwa 26 persen dari responden yang berada pada level manajerial
pindah pekerjaan dalam satu tahun terakhir dan 41 persen telah mendapatkan
pekerjaan baru dalam periode 1 hingga 3 tahun.
Dalam melakukan
survei tersebut, Monroe mendapatkan tanggapan dari sekitar 1.000 karyawan
profesional yang memiliki keahlian dan 100 pemberi kerja utama (employers).
Kaum profesional yang disurvei memiliki lebih dari 5 tahun pengalaman dan telah
memegang posisi pada level manajemen menengah dan senior, sementara informasi
pemberi kerja diperoleh dari perwakilan sumber daya manusia dan
direktur-direktur baik perusahaan nasional maupun internasional.
Beberapa
penemuan kunci lainnya, diantaranya:
• Uang
menjadi pertimbangan utama ketika pindah kerja, dengan 48 persen dari responden
meminta gaji lebih tinggi di atas 30 persen dari level remunerasi mereka saat
ini.
• Pekerja
profesional dijaga dengan baik, dengan cara menawarkan manfaat kerja yang besar
sebagai upaya untuk mempertahankan karyawan.
• Mayoritas
pemberi kerja (employers) menambah
karyawan dalam perusahaan mereka selama 2013, sebesar 52 persen menunjukkan
kenaikan yang tipis dan 27 persen mencatat peningkatan yang signifikan.
• Tren
proses rekrutmen yang positif ini diperkirakan akan berlanjut pada 2014. 30
Persen pemberi kerja mengantisipasi pertumbuhan jumlah pekerja yang signifikan
dan 51 persen menunjukkan peningkatan tipis.
Bagus
Hendrayono, deputy country manager Monroe
Consulting Group Indonesia, mengatakan survei mempertegas tren yang terjadi saat
ini, yakni adanya peningkatan permintaan pekerja profesional oleh pelaku usaha.
Bagi para pekerja profesional kondisi ini menguntungkan, karena semakin tinggi
kompetisi mencari tenaga kerja profesional dan memiliki keahlian di bidang
tertentu, semakin besar peluang mendapatkan gaji yang lebih tinggi atau paket
remunerasi yang menarik.
Andrew
Hairs, direktur regional Monroe Consulting Group, mengatakan survei juga
mengidentifikasi beberapa kesulitan bagi perusahaan yang memburu pekerja.
31 Persen mengatakan mereka menerima tawaran tandingan dari pemberi kerja
setelah mengajukan pengunduran diri.
Di industri migas, pasar tenaga kerja profesional sangat terbuka dan tidak terbatas oleh cakupan wilayah. Parameter yang digunakan pun jelas. Bila Anda seorang profesional, memiliki keahlian, kompetensi dan pengalaman, maka besar peluang karir terus meningkat. Perusahaan-perusahaan migas multi-nasional, biasanya sangat menekankan sisi kompetensi ini dan kesetaraan.
Negara asal, suku, agama dan primordialisme, tidak menjadi pertimbangan. Yang penting memenuhi persyaratan yang ditentukan perusahaan migas. Ini terbukti semakin banyak para profesional Indonesia yang kini naik ke posisi puncak perusahaan migas dunia yang beroperasi di Indonesia. Beberapa perusahaan migas seperti Chevron, Total E&P Indonesie dan lainnya, kini dipegang oleh putra-putri bangsa. Banyak juga para pekerja profesional asal Indonesia yang kini bekerja di perusahaan migas di Timur Tengah, Afrika, Asia Timur dan Amerika Selatan.
Asas profesionalisme sangat dijunjung tinggi di industir migas. Sehingga bila sebuah perusahaan, aspek profesionalisme tidak diperhatikan, aspek kompetensi dan remunerasi yang baik tidak diperhatikan, maka tidak heran, bila para pekerja minggat ke perusahaan lain. Situasi ini yang dikhawatirkan bila Blok Mahakam kelak diserahkan ke perusahaan yang tidak memperhatikan kepentingan para pekerjanya. (*)
Di industri migas, pasar tenaga kerja profesional sangat terbuka dan tidak terbatas oleh cakupan wilayah. Parameter yang digunakan pun jelas. Bila Anda seorang profesional, memiliki keahlian, kompetensi dan pengalaman, maka besar peluang karir terus meningkat. Perusahaan-perusahaan migas multi-nasional, biasanya sangat menekankan sisi kompetensi ini dan kesetaraan.
Negara asal, suku, agama dan primordialisme, tidak menjadi pertimbangan. Yang penting memenuhi persyaratan yang ditentukan perusahaan migas. Ini terbukti semakin banyak para profesional Indonesia yang kini naik ke posisi puncak perusahaan migas dunia yang beroperasi di Indonesia. Beberapa perusahaan migas seperti Chevron, Total E&P Indonesie dan lainnya, kini dipegang oleh putra-putri bangsa. Banyak juga para pekerja profesional asal Indonesia yang kini bekerja di perusahaan migas di Timur Tengah, Afrika, Asia Timur dan Amerika Selatan.
Asas profesionalisme sangat dijunjung tinggi di industir migas. Sehingga bila sebuah perusahaan, aspek profesionalisme tidak diperhatikan, aspek kompetensi dan remunerasi yang baik tidak diperhatikan, maka tidak heran, bila para pekerja minggat ke perusahaan lain. Situasi ini yang dikhawatirkan bila Blok Mahakam kelak diserahkan ke perusahaan yang tidak memperhatikan kepentingan para pekerjanya. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar